Selasa, 19 Mei 2026

Suka Duka Pendiri Rumah Baca Bintang Grobogan

Lewat Rumah Baca Bintang yang dia dirikan, Yulianto tetap fokus melakukan pembinaan minat baca pada anak-anak.

Tayang:
Mazka Hauza Naufan
Yulianto (IG: @yuliantodelaveras), membacakan buku pop-up bertema hewan liar di hadapan Oliv (5) dan Inka (4) pada Kamis (13/7/2023) sore di Rumah Baca Bintang Grobogan. 

Yulianto diajak bergabung ke Pustaka Bergerak dan diminta membuat boneka ikon. Akhirnya lahirlah boneka muppet bernama Nana, yang diambil dari nama panggilan Najwa Shihab, pesohor yang saat itu menyandang titel Duta Baca Indonesia. 

Hal itulah yang membuat Yulianto berkesempatan bertemu langsung dengan Najwa Shihab. 

Selanjutnya, Yulianto juga membuat boneka muppet berkebaya kuning bernama Mumun. 

Nana dan Mumun selalu menemani Yulianto dalam setiap kegiatan literasi yang dia lakukan. Hal inilah yang kemudian membuatnya dikenal sebagai inisiator Boneka Pustaka Bergerak.

Jejaringnya di dunia literasi pun kian luas dan gerakannya makin banyak disorot. Bersama rekan-rekan satu pergerakan, ia pernah mendapat donasi buku senilai puluhan juta rupiah dari Deutsche Bank. 

Donasi tersebut dikirimkan ke Lombok, Nusa Tenggara Barat, yang pada pertengahan 2018 mengalami bencana gempa bumi.

Suatu hari pada pertengahan 2019, dia menerima kabar buruk. Ia dinyatakan mengidap suatu penyakit yang membuat daya tahan tubuh melemah.

"Ketahuan saat saya donor darah rutin. Saya kaget karena sudah 12 tahun rutin jadi pendonor, tiba-tiba dibilang sakit seperti itu. Saya lalu diperiksa oleh dokter PMI dan benar-benar divonis sakit," kata Yulianto yang enggan menyebutkan nama penyakit yang dia derita.

Sempat dirundung kesedihan, Yulianto akhirnya rela menerima nasib harus mengonsumsi obat-obatan seumur hidup.

Meski tidak bisa berperan lagi melalui tetes-tetes darah sebagai pendonor, Yulianto menghibur diri bahwa dia masih bisa bermanfaat di bidang yang ia cintai, yakni literasi dan kepustakaan.

Dia tetap berkeliling membuka lapak-lapak baca, membacakan buku di hadapan anak-anak, sekalipun harus membawa obat ke mana-mana. Yulianto harus mengonsumsi obat tiap 12 jam sekali.

Saat semangatnya mulai bangkit, justru cobaan berat berikutnya menimpa Yulianto. Dalam perjalanan menuju lokasi lapak baca di suatu desa di sudut Grobogan, dia mengalami kecelakaan lalu lintas. 

Akibat menghindari bus yang mengerem mendadak, Yuli yang mengendarai sepeda motor terjatuh. Tulang lengan dan tempurung lututnya retak. Selama dua bulan dia tidak bisa beraktivitas normal karena harus menjalani proses pemulihan.

Meski tulang-tulangnya retak dan tubuhnya tak bisa bergerak, Yulianto mencari cara agar aktivitas kepustakaan tetap bergerak.

Sambil tetap membuka Rumah Baca Bintang, Yulianto menginisiasi terbentuknya empat simpul pustaka lain. 

Keempat simpul pustaka itu adalah Rumah Baca Mulya Utama di Desa Dempel Kecamatan Karangrayung, Taman Baca Lurung Ceria di Desa Welahan Kecamatan Karangrayung, Padepokan Ayom Ayem di Desa Godan Kecamatan Tawangharjo, dan Teras Baca Rejosari di Desa Rejosari Kecamatan Grobogan.

Rumah-rumah baca gratis itu memiliki penanggung jawab masing-masing dan terbuka lebar bagi siapa saja yang haus akan bahan bacaan berkualitas.

Tak Lagi Kejar Popularitas, Justru Makin Dikenal

Saat Yulianto telah meluruskan niat dan memantapkan hati untuk semata-mata menebar manfaat tanpa mengejar popularitas, gerakan literasinya justru kian dikenal banyak pihak.

Bahkan, melalui gerakan Boneka Pustaka Bergerak, pada Oktober 2021, Yulianto menerima apresiasi Satu Indonesia Awards Tingkat Provinsi Jawa Tengah bidang Pendidikan oleh PT Astra International.

Semakin banyak pula pihak yang mendukung gerakan Yulianto. Banyak penerbit, lembaga, maupun donatur perorangan yang mengirimkan buku-buku untuk kemudian didistribusikan lagi oleh Yulianto ke rumah-rumah baca yang dia inisiasi.

"McD (restoran cepat saji) pernah kirim 4 ribu buku. Saya distribusikan ke 5 taman baca dan juga teman-teman yang suka baca. KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) juga pernah kirim buku. Pernah juga dapat seribu mushaf al-Qur'an dari salah satu penerbit untuk saya bagi-bagikan," kata dia.

Tak hanya buku, Yulianto juga kerap mendapat kiriman mainan edukatif dan boneka dari sejumlah produsen.

Selain untuk melengkapi rumah baca, mainan-mainan itu juga dia bagikan secara cuma-cuma pada anak-anak di sekitar.

Saat pandemi Covid-19 lalu, ratusan boneka dan koleksi buku dia bagikan secara cuma-cuma. Sebab, saat itu kegiatan perkumpulan dilarang dan anak-anak tidak bisa berkunjung ke rumah baca. Buku dan boneka dia bagikan agar anak-anak tetap semangat belajar di rumah.

Selain obat-obatan medis, aktivitas berbagi juga jadi "penyembuh" bagi Yulianto. Gundah dan lara bisa terobati dengan berbagi.

Mengenai hal ini, kisah menarik dituturkan oleh Miratus Sholihah (26). Lewat suaminya, ibu satu anak ini pernah dihadiahi buku bacaan bayi oleh Yulianto.

"Suami saya yang kenal Mas Yulianto. Suatu hari suami buat status WhatsApp foto saat membacakan buku pada anak saya yang baru berusia tiga bulan. Eh, pas suami saya main ke sana, dioleh-olehi buku-buku untuk bayi yang harganya tidak murah," kata warga Gembong, Kabupaten Pati ini, Selasa (18/7/2023).

Yulianto mengaku senang jika ada orang tua yang memperhatikan "nutrisi otak" bagi anak sejak dini. Karena itu dia tergerak memberikan hadiah buku sebagai apresiasi pada kawannya yang mengenalkan buku pada anak sejak bayi.

"Banyak yang mengira, membacakan buku untuk bayi itu sia-sia karena bayi belum mengerti. Padahal buku bisa dikenalkan pada anak sejak usia 0. Bisa merangsang penglihatan, pendengaran, dan kecerdasannya," jelas Yulianto.

Buku adalah Bintang Bercahaya Terang nan Indah

Awal tahun ini, Yulianto beruntung menjadi salah satu relawan pustaka yang menerima hibah "Motor Pustaka".

Dia merasa terharu mendapat amanah berupa pemberian sepeda motor matic hasil kerjasama Pustaka Bergerak, Dirjen Kebudayaan Kemdikbudristek, LPDP, dan Dana Indonesiana itu.

"Saya bersyukur. Tapi tiap relawan punya rezeki masing-masing. Bentuknya tidak hanya materi dan bisa datang setelah melalui ujian berkali-kali dalam wujud berbeda. Intinya tetap saja bergerak dan jangan terlalu peduli pada yang orang lain dapat," ungkap Yulianto.

Anugerah lain yang dia syukuri ialah kepercayaan yang dia dapat dari banyak pihak untuk mendapat rezeki sebagai pencerita atau story teller.

"Saya kerap diundang jadi story teller. Bercerita dan membacakan buku dengan boneka. Tiap bulan pasti ada. Kadang seminggu penuh. Di Perpusda, sekolah, acara-acara ulang tahun. Pernah juga saya diundang Kominfo," ujar dia.

Sebagai story teller, pendapatan Yulianto tidak menentu. Pernah dia hanya diberi Rp 50 ribu sekali tampil. Tapi pernah juga dia dibayar sampai Rp 6 juta hanya untuk satu sesi berdurasi kurang dari satu jam.

"Yang jelas saya tidak pernah mematok tarif. Berapa pun yang saya terima, itu yang saya anggap rezeki saya. Dan saya tetap sisihkan untuk beli buku," tegas Yulianto.

Bagaimanapun, bisa sampai di titik ini sudah menjadi pencapaian yang sangat disyukuri oleh Yulianto.

Dia mengenang saat kecil dulu. Dia hanyalah anak pemalu, tak pandai bicara, yang jatuh cinta pada buku di tengah keterbatasan ekonomi dan keterbatasan geografis. Orang tuanya tidak bisa membelikan buku bacaan karena harganya tidak murah dan toko buku jaraknya jauh di kota.

Walhasil, perpustakaan sekolah adalah satu-satunya akses terhadap buku bacaan. Meskipun koleksi buku di sekolahnya yang terbilang pelosok sangat jauh dari kata memadai, Yulianto tetap memandang buku-buku dengan penuh ketakjuban.

Bagi Yulianto kecil, buku bagaikan bintang. Bintang yang memancarkan cahaya indah. Cahaya indah yang ingin dia rawat dan bagikan lewat Rumah Baca Bintang. (mzk)

Sumber: TribunMuria.com
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved