Suka Duka Pendiri Rumah Baca Bintang Grobogan
Lewat Rumah Baca Bintang yang dia dirikan, Yulianto tetap fokus melakukan pembinaan minat baca pada anak-anak.
Penulis: Mazka Hauzan Naufal | Editor: Daniel Ari Purnomo
Bagi Yulianto, antusiasme Oliv dan Inka menunjukkan bahwa permasalahan utama literasi di Indonesia bukanlah minat baca yang rendah seperti yang selama ini diyakini banyak orang. Apa yang menjadi penyebab rendahnya minat baca adalah permasalahan utamanya.
Yulianto sejak lama meyakini, permasalahan utama itu ialah keterbatasan akses buku berkualitas dan minimnya pembinaan minat baca.
Berbekal keyakinan itu, sejak 2011 Yulianto mendirikan Rumah Baca Bintang dan berangsur-angsur menginisiasi terbentuknya empat simpul rumah baca lain di Grobogan.
Mulanya, dia hanya sebatas menyusun buku-buku koleksi pribadi agar bisa dibaca umum. Kondisi rumah baca belum sebagus sekarang. Saat itu bahkan Yulianto menggunakan kotak telur sebagai rak buku.
Koleksi buku perlahan-lahan dia tambah dari hasil menyisihkan gaji sebagai pustakawan di sebuah SMP swasta.
"Saya sisihkan untuk beli buku walaupun dulu gaji saya cuma Rp 300 ribu per bulan dan perlahan naik jadi Rp 1 juta per bulan," kenang dia.
Sebanyak apa pun buku, sangat disayangkan jika tidak bisa menjangkau banyak orang. Hal inilah yang kemudian memunculkan ide Yulianto untuk berkeliling membacakan buku di hadapan anak-anak.
Namun, Yulianto pada dasarnya seorang introvert dan pemalu. Dia lalu memutar otak dan terpikir untuk memanfaatkan boneka saat membacakan buku.
“Saya pikir, penggunaan boneka justru bisa mengatasi sifat pemalu saya karena anak-anak akan lebih fokus melihat boneka. Saya lalu belajar mendongeng di Sanggar Cergam Kak Kempho Semarang. Setelah itu saya berkeliling ke pelosok-pelosok Grobogan membawa buku dan boneka,” papar Yulianto.
Mengendarai sepeda motor matic, Yulianto menerjang banjir, menerobos hutan, dan melintasi jalan setapak sambil menggendong buku-buku dan boneka.
Dia membacakan buku di hadapan anak-anak di banyak sekolah, TPQ, madrasah diniyyah, hingga taman.
Sepeda motornya sampai berkali-kali masuk bengkel karena kerap melalui medan ekstrem.
Firasat Akan Mati
Sebagaimana disinggung di awal tulisan ini, pada 2018 Yulianto mendapat firasat bahwa dia tak lama lagi akan meninggal dunia.
Meski menyimpan takut dan khawatir, Yulianto mencoba mengabaikan firasat itu. Dia tetap menyibukkan diri dengan aktivitas literasi. Dia bahkan mengundurkan diri dari pekerjaan sebagai pustakawan di SMP swasta agar bisa lebih total dalam menyebarkan virus gemar membaca.
Buah ketekunannya, pada tahun itu juga gerakan literasi Yulianto akhirnya dilirik oleh Nirwan Ahmad Arsuka, pendiri Pustaka Bergerak Indonesia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/muria/foto/bank/originals/Rumah-Baca-Bintang-Grobogan.jpg)