Rabu, 20 Mei 2026

Suka Duka Pendiri Rumah Baca Bintang Grobogan

Lewat Rumah Baca Bintang yang dia dirikan, Yulianto tetap fokus melakukan pembinaan minat baca pada anak-anak.

Tayang:
Mazka Hauza Naufan
Yulianto (IG: @yuliantodelaveras), membacakan buku pop-up bertema hewan liar di hadapan Oliv (5) dan Inka (4) pada Kamis (13/7/2023) sore di Rumah Baca Bintang Grobogan. 

TRIBUNMURIA.COM, GROBOGAN - Suatu hari pada 2018, Yulianto (33) mendapatkan "penglihatan" yang menakjubkan sekaligus menakutkan.

Di depan matanya, tiba-tiba terpampang sebuah pintu gerbang besar berwarna hitam pekat. Ketika gerbang dibuka, ada sebuah jalan terang-benderang. Jalan itu lurus bagai lorong cahaya yang membelah kegelapan tak berujung.

"Berkali-kali saya dapat 'penglihatan' itu. Bukan mimpi. Hal ini memberi saya firasat bahwa tahun 2019 saya sudah tidak ada. Rasanya saya akan meninggal, saya akan selesai tahun depan," kata Yulianto saat ditemui Tribunjateng.com di kediamannya, Desa Sumberjosari, Kecamatan Karangrayung, Kabupaten Grobogan, Kamis (13/7/2023) sore.

Yulianto sempat takut dan khawatir. Namun dia berusaha menepis pikiran-pikiran negatif agar tetap fokus melakoni kegiatan sebagai penggerak literasi di Grobogan.

Lewat Rumah Baca Bintang yang dia dirikan, juga lewat kegiatan berkeliling ke pelosok-pelosok Grobogan untuk membuka lapak-lapak baca, Yulianto tetap fokus melakukan pembinaan minat baca pada anak-anak.

Namun, kabar menyentak betul-betul tiba pada 2019. Oleh dokter, Yulianto divonis mengidap suatu penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Kekebalan tubuhnya diserang dan dia terpaksa harus minum obat setiap hari sepanjang hayat. Yulianto enggan menyebutkan nama penyakitnya.

Di tengah upaya bangkit dari depresi akibat penyakit, cobaan-cobaan lain datang menghampiri. Yulianto diuji habis-habisan. Pada tahun yang sama dia mengalami kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan tempurung lutut dan tulang lengan retak. 

Tak berselang lama, ia mengalami musibah banjir. Koleksi buku di rumah baca rusak seluruhnya. Padahal buku-buku itu dia beli sedikit demi sedikit dari hasil menyisihkan gaji yang tak seberapa dari pekerjaan sebagai pustakawan sekolah swasta.

Cobaan yang datang bertubi-tubi itu membuat Yulianto depresi dan merasa bahwa penglihatan dan firasat yang dia dapat pada 2018 akan benar-benar terjadi.

Namun, Yulianto mencoba bersabar. Dia meyakini bahwa bagi orang-orang yang sabar, Tuhan akan memberi jalan keluar dari setiap permasalahan.

Dia merenung. Untuk menepis depresi, Yulianto mencoba menata ulang niat dalam menekuni gerakan literasi. Dia belajar ikhlas.

"Ilmu ikhlas itu ilmu tingkat tinggi. Saya ingin bisa ikhlas seperti surat al-Ikhlas yang di dalamnya tidak ada kata ikhlas. Selama ini mungkin saya masih punya hasrat ingin dikenal, ingin populer. Musibah yang saya alami mungkin teguran bagi saya," ungkap Sarjana Ilmu Perpustakaan dari Universitas Terbuka Purwodadi ini.

Sembari menyusun ulang niat, Yulianto juga menyusun ulang koleksi buku dari awal. Pelan-pelan, dia membeli lagi buku-buku untuk mengisi rumah baca.

Dia bersyukur, hingga kini Tuhan masih memberinya kesempatan untuk hidup dan mengisi kehidupan dengan menebar manfaat, menyebarkan virus gemar membaca pada sebanyak-banyaknya anak.

"Wahyu Nabi Muhammad yang pertama saja perintah untuk membaca, kan?" tanya Yulianto retoris.

Pada akhirnya, "penglihatan" dan firasat yang didapat Yulianto tidak sepenuhnya salah. Yulianto memang "sudah tidak ada". Namun, hasrat meraih popularitasnya-lah yang sudah tidak ada. Yulianto memang sudah "selesai". Namun, ego pribadinya-lah yang sudah selesai.

Berikut kisah selengkapnya.

Kisah Berdirinya Rumah Baca Bintang

"Mau baca buku atau main?" tanya Yulianto (33) pada dua gadis kecil yang berkunjung ke perpustakaan miliknya.

Dua anak itu, Oliv (5) dan Inka (4), kompak menjawab dengan suara lantang, "Baca buku!"
 
Mengagumkan. Di sebuah desa di pelosok Grobogan yang jauh dari toko buku besar dan penerbitan, anak-anak belia lebih tertarik membaca buku ketimbang bermain.

Oliv dan Inka lantas memilih buku pop-up bertema hewan-hewan liar. Buku ini jika lembar-lembarnya dibuka akan memunculkan ilustrasi tiga dimensi berbagai hewan liar, mulai dari singa, jerapah, hingga gorila.

Mengenakan kaus putih bergambar logo Pustaka Bergerak, Yulianto membacakan buku itu di hadapan Oliv dan Inka. Sesekali dia melontarkan pertanyaan dan menirukan suara hewan yang sedang dibahas. Dua bocah itu tampak ceria. Mereka semangat menimpali kata-kata Yulianto sembari bergelak tawa.

Peristiwa yang menghangatkan hati dan menyejukkan pandangan itu terjadi di Rumah Baca Bintang, Dusun Jajar RT 3 RW 3, Desa Sumberjosari, Kecamatan Karangrayung, Kabupaten Grobogan, Kamis (13/7/2023) sore.

Yulianto adalah pendiri sekaligus pengelola Rumah Baca Bintang. Rumah baca ini bertempat di kediaman yang ia tinggali bersama kedua orang tua.

Rumah Baca Bintang punya ribuan koleksi buku. Selain itu juga banyak boneka serta mainan edukatif. Di sini, siapa saja boleh datang untuk membaca dan bermain secara gratis. 

Tidak ada batasan usia bagi pengunjung rumah baca. Koleksi buku yang ada beragam dan meliputi berbagai kelompok usia. Namun, memang kebanyakan pengunjung yang datang ialah anak-anak di lingkungan Yulianto tinggal.

Dengan perantara boneka-boneka, Yulianto kerap membacakan buku, berdongeng, dan berdiskusi dengan anak-anak yang datang ke rumah baca. Pembawaan Yulianto yang ceria dan interaktif membuat anak-anak betah belajar dan bermain di sini, bahkan juga mereka yang belum bisa membaca.

"Inka itu belum bisa membaca. Dia kalau ke sini cari buku yang bergambar. Lalu dia ngomong sendiri, bikin cerita sendiri berdasarkan gambar yang dia lihat. Saya senang karena bagaimanapun itu memunculkan ketertarikan dia terhadap buku dan melatih imajinasi," ungkap Yulianto.

Ditanya tentang trik apa yang dia gunakan sehingga anak-anak lebih memilih membaca ketimbang bermain, Yulianto mengatakan bahwa hal itu sengaja ia latih.

"Anak-anak yang datang ke sini semua sudah paham. Mereka boleh main dengan boneka atau mainan apa pun yang ada di sini, asalkan baca buku dulu. Itu sudah jadi kebiasaan di sini," terang dia.

Bagi Yulianto, antusiasme Oliv dan Inka menunjukkan bahwa permasalahan utama literasi di Indonesia bukanlah minat baca yang rendah seperti yang selama ini diyakini banyak orang. Apa yang menjadi penyebab rendahnya minat baca adalah permasalahan utamanya.

Yulianto sejak lama meyakini, permasalahan utama itu ialah keterbatasan akses buku berkualitas dan minimnya pembinaan minat baca. 
 
Berbekal keyakinan itu, sejak 2011 Yulianto mendirikan Rumah Baca Bintang dan berangsur-angsur menginisiasi terbentuknya empat simpul rumah baca lain di Grobogan.

Mulanya, dia hanya sebatas menyusun buku-buku koleksi pribadi agar bisa dibaca umum. Kondisi rumah baca belum sebagus sekarang. Saat itu bahkan Yulianto menggunakan kotak telur sebagai rak buku.

Koleksi buku perlahan-lahan dia tambah dari hasil menyisihkan gaji sebagai pustakawan di sebuah SMP swasta.

"Saya sisihkan untuk beli buku walaupun dulu gaji saya cuma Rp 300 ribu per bulan dan perlahan naik jadi Rp 1 juta per bulan," kenang dia.

Sebanyak apa pun buku, sangat disayangkan jika tidak bisa menjangkau banyak orang. Hal inilah yang kemudian memunculkan ide Yulianto untuk berkeliling membacakan buku di hadapan anak-anak.

Namun, Yulianto pada dasarnya seorang introvert dan pemalu. Dia lalu memutar otak dan terpikir untuk memanfaatkan boneka saat membacakan buku.

“Saya pikir, penggunaan boneka justru bisa mengatasi sifat pemalu saya karena anak-anak akan lebih fokus melihat boneka. Saya lalu belajar mendongeng di Sanggar Cergam Kak Kempho Semarang. Setelah itu saya berkeliling ke pelosok-pelosok Grobogan membawa buku dan boneka,” papar Yulianto.

Mengendarai sepeda motor matic, Yulianto menerjang banjir, menerobos hutan, dan melintasi jalan setapak sambil menggendong buku-buku dan boneka.

Dia membacakan buku di hadapan anak-anak di banyak sekolah, TPQ, madrasah diniyyah, hingga taman.

Sepeda motornya sampai berkali-kali masuk bengkel karena kerap melalui medan ekstrem.

Firasat Akan Mati

Sebagaimana disinggung di awal tulisan ini, pada 2018 Yulianto mendapat firasat bahwa dia tak lama lagi akan meninggal dunia.

Meski menyimpan takut dan khawatir, Yulianto mencoba mengabaikan firasat itu. Dia tetap menyibukkan diri dengan aktivitas literasi. Dia bahkan mengundurkan diri dari pekerjaan sebagai pustakawan di SMP swasta agar bisa lebih total dalam menyebarkan virus gemar membaca.

Buah ketekunannya, pada tahun itu juga gerakan literasi Yulianto akhirnya dilirik oleh Nirwan Ahmad Arsuka, pendiri Pustaka Bergerak Indonesia. 

Yulianto diajak bergabung ke Pustaka Bergerak dan diminta membuat boneka ikon. Akhirnya lahirlah boneka muppet bernama Nana, yang diambil dari nama panggilan Najwa Shihab, pesohor yang saat itu menyandang titel Duta Baca Indonesia. 

Hal itulah yang membuat Yulianto berkesempatan bertemu langsung dengan Najwa Shihab. 

Selanjutnya, Yulianto juga membuat boneka muppet berkebaya kuning bernama Mumun. 

Nana dan Mumun selalu menemani Yulianto dalam setiap kegiatan literasi yang dia lakukan. Hal inilah yang kemudian membuatnya dikenal sebagai inisiator Boneka Pustaka Bergerak.

Jejaringnya di dunia literasi pun kian luas dan gerakannya makin banyak disorot. Bersama rekan-rekan satu pergerakan, ia pernah mendapat donasi buku senilai puluhan juta rupiah dari Deutsche Bank. 

Donasi tersebut dikirimkan ke Lombok, Nusa Tenggara Barat, yang pada pertengahan 2018 mengalami bencana gempa bumi.

Suatu hari pada pertengahan 2019, dia menerima kabar buruk. Ia dinyatakan mengidap suatu penyakit yang membuat daya tahan tubuh melemah.

"Ketahuan saat saya donor darah rutin. Saya kaget karena sudah 12 tahun rutin jadi pendonor, tiba-tiba dibilang sakit seperti itu. Saya lalu diperiksa oleh dokter PMI dan benar-benar divonis sakit," kata Yulianto yang enggan menyebutkan nama penyakit yang dia derita.

Sempat dirundung kesedihan, Yulianto akhirnya rela menerima nasib harus mengonsumsi obat-obatan seumur hidup.

Meski tidak bisa berperan lagi melalui tetes-tetes darah sebagai pendonor, Yulianto menghibur diri bahwa dia masih bisa bermanfaat di bidang yang ia cintai, yakni literasi dan kepustakaan.

Dia tetap berkeliling membuka lapak-lapak baca, membacakan buku di hadapan anak-anak, sekalipun harus membawa obat ke mana-mana. Yulianto harus mengonsumsi obat tiap 12 jam sekali.

Saat semangatnya mulai bangkit, justru cobaan berat berikutnya menimpa Yulianto. Dalam perjalanan menuju lokasi lapak baca di suatu desa di sudut Grobogan, dia mengalami kecelakaan lalu lintas. 

Akibat menghindari bus yang mengerem mendadak, Yuli yang mengendarai sepeda motor terjatuh. Tulang lengan dan tempurung lututnya retak. Selama dua bulan dia tidak bisa beraktivitas normal karena harus menjalani proses pemulihan.

Meski tulang-tulangnya retak dan tubuhnya tak bisa bergerak, Yulianto mencari cara agar aktivitas kepustakaan tetap bergerak.

Sambil tetap membuka Rumah Baca Bintang, Yulianto menginisiasi terbentuknya empat simpul pustaka lain. 

Keempat simpul pustaka itu adalah Rumah Baca Mulya Utama di Desa Dempel Kecamatan Karangrayung, Taman Baca Lurung Ceria di Desa Welahan Kecamatan Karangrayung, Padepokan Ayom Ayem di Desa Godan Kecamatan Tawangharjo, dan Teras Baca Rejosari di Desa Rejosari Kecamatan Grobogan.

Rumah-rumah baca gratis itu memiliki penanggung jawab masing-masing dan terbuka lebar bagi siapa saja yang haus akan bahan bacaan berkualitas.

Tak Lagi Kejar Popularitas, Justru Makin Dikenal

Saat Yulianto telah meluruskan niat dan memantapkan hati untuk semata-mata menebar manfaat tanpa mengejar popularitas, gerakan literasinya justru kian dikenal banyak pihak.

Bahkan, melalui gerakan Boneka Pustaka Bergerak, pada Oktober 2021, Yulianto menerima apresiasi Satu Indonesia Awards Tingkat Provinsi Jawa Tengah bidang Pendidikan oleh PT Astra International.

Semakin banyak pula pihak yang mendukung gerakan Yulianto. Banyak penerbit, lembaga, maupun donatur perorangan yang mengirimkan buku-buku untuk kemudian didistribusikan lagi oleh Yulianto ke rumah-rumah baca yang dia inisiasi.

"McD (restoran cepat saji) pernah kirim 4 ribu buku. Saya distribusikan ke 5 taman baca dan juga teman-teman yang suka baca. KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) juga pernah kirim buku. Pernah juga dapat seribu mushaf al-Qur'an dari salah satu penerbit untuk saya bagi-bagikan," kata dia.

Tak hanya buku, Yulianto juga kerap mendapat kiriman mainan edukatif dan boneka dari sejumlah produsen.

Selain untuk melengkapi rumah baca, mainan-mainan itu juga dia bagikan secara cuma-cuma pada anak-anak di sekitar.

Saat pandemi Covid-19 lalu, ratusan boneka dan koleksi buku dia bagikan secara cuma-cuma. Sebab, saat itu kegiatan perkumpulan dilarang dan anak-anak tidak bisa berkunjung ke rumah baca. Buku dan boneka dia bagikan agar anak-anak tetap semangat belajar di rumah.

Selain obat-obatan medis, aktivitas berbagi juga jadi "penyembuh" bagi Yulianto. Gundah dan lara bisa terobati dengan berbagi.

Mengenai hal ini, kisah menarik dituturkan oleh Miratus Sholihah (26). Lewat suaminya, ibu satu anak ini pernah dihadiahi buku bacaan bayi oleh Yulianto.

"Suami saya yang kenal Mas Yulianto. Suatu hari suami buat status WhatsApp foto saat membacakan buku pada anak saya yang baru berusia tiga bulan. Eh, pas suami saya main ke sana, dioleh-olehi buku-buku untuk bayi yang harganya tidak murah," kata warga Gembong, Kabupaten Pati ini, Selasa (18/7/2023).

Yulianto mengaku senang jika ada orang tua yang memperhatikan "nutrisi otak" bagi anak sejak dini. Karena itu dia tergerak memberikan hadiah buku sebagai apresiasi pada kawannya yang mengenalkan buku pada anak sejak bayi.

"Banyak yang mengira, membacakan buku untuk bayi itu sia-sia karena bayi belum mengerti. Padahal buku bisa dikenalkan pada anak sejak usia 0. Bisa merangsang penglihatan, pendengaran, dan kecerdasannya," jelas Yulianto.

Buku adalah Bintang Bercahaya Terang nan Indah

Awal tahun ini, Yulianto beruntung menjadi salah satu relawan pustaka yang menerima hibah "Motor Pustaka".

Dia merasa terharu mendapat amanah berupa pemberian sepeda motor matic hasil kerjasama Pustaka Bergerak, Dirjen Kebudayaan Kemdikbudristek, LPDP, dan Dana Indonesiana itu.

"Saya bersyukur. Tapi tiap relawan punya rezeki masing-masing. Bentuknya tidak hanya materi dan bisa datang setelah melalui ujian berkali-kali dalam wujud berbeda. Intinya tetap saja bergerak dan jangan terlalu peduli pada yang orang lain dapat," ungkap Yulianto.

Anugerah lain yang dia syukuri ialah kepercayaan yang dia dapat dari banyak pihak untuk mendapat rezeki sebagai pencerita atau story teller.

"Saya kerap diundang jadi story teller. Bercerita dan membacakan buku dengan boneka. Tiap bulan pasti ada. Kadang seminggu penuh. Di Perpusda, sekolah, acara-acara ulang tahun. Pernah juga saya diundang Kominfo," ujar dia.

Sebagai story teller, pendapatan Yulianto tidak menentu. Pernah dia hanya diberi Rp 50 ribu sekali tampil. Tapi pernah juga dia dibayar sampai Rp 6 juta hanya untuk satu sesi berdurasi kurang dari satu jam.

"Yang jelas saya tidak pernah mematok tarif. Berapa pun yang saya terima, itu yang saya anggap rezeki saya. Dan saya tetap sisihkan untuk beli buku," tegas Yulianto.

Bagaimanapun, bisa sampai di titik ini sudah menjadi pencapaian yang sangat disyukuri oleh Yulianto.

Dia mengenang saat kecil dulu. Dia hanyalah anak pemalu, tak pandai bicara, yang jatuh cinta pada buku di tengah keterbatasan ekonomi dan keterbatasan geografis. Orang tuanya tidak bisa membelikan buku bacaan karena harganya tidak murah dan toko buku jaraknya jauh di kota.

Walhasil, perpustakaan sekolah adalah satu-satunya akses terhadap buku bacaan. Meskipun koleksi buku di sekolahnya yang terbilang pelosok sangat jauh dari kata memadai, Yulianto tetap memandang buku-buku dengan penuh ketakjuban.

Bagi Yulianto kecil, buku bagaikan bintang. Bintang yang memancarkan cahaya indah. Cahaya indah yang ingin dia rawat dan bagikan lewat Rumah Baca Bintang. (mzk)

Sumber: TribunMuria.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved