Berita Jateng

Kini Terbengkalai, Menara Syahbandar Sleko Pernah Jadi Simbol Kejayaan Pelabuhan Kota Semarang

Menara Syahbandar Sleko merupakan salah satu saksi sejarah kejayaan Pelabuhan Kota Semarang era kolonial.

Penulis: Budi Susanto | Editor: Muhammad Olies
Tribun Jateng/Budi Susanto
Kondisi Menara Syahbandar Sleko Kota Semarang terkini, Senin (23/1/2023). 

TRIBUNMURIA.COM, SEMARANG - Menara Syahbandar Sleko merupakan salah satu saksi sejarah kejayaan Pelabuhan Kota Semarang era kolonial.

Menara itu jadi saksi bisa perkembangan Kota Semarang dan aktivitas perdagangan di abad 19.

Bahkan masa keemasan itu dicatat dalam buku Buruh Pelabuhan Semarang, karya Agustinus Supriyono.

Di mana pada 1830 hingga 1870, Kota Semarang jadi kota pelabuhan terpenting di Jawa.

Hal tersebut lantaran sebagian besar produk pertanian dari pedalaman Jawa Tengah yang akan diekspor harus melalui pelabuhan Semarang. 

Terlebih setelah Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM) dibentuk, semakin banyak produk pertanian dari Jawa Tengah yang diekspor melalui pelabuhan Semarang. 

Menara Syahbandar Sleko sendiri memiliki peranan krusial pada abad 19, saat wilayah sekitar Sleko adalah pelabuhan.

Menara itu berbentuk kubus empat susun, yang berfungsi sebagai menara pandang untuk mengatur bongkar muat kapal.

Pada masa itu, kapal-kapal yang hendak masuk ke Kota Semarang harus mendapat izin dari Menara Syahbandar Sleko

Di menara itu, retribusi ditarik dari para pedagang yang masuk ke Kota Semarang

Pada saat itu transportasi sungai sangat berperan untuk membawa kebutuhan sehari-hari dan barang perdagangan dari pedalaman.

Aktivitas super sibuk di wilayah Pelabuhan Sleko saat itu juga tercatat dalam publikasi Ports Cities of The World pada 1925.

Baca juga: Al-Quran Dibakar, Pelakunya Politikus Sayap Kanan Swedia-Denmark Paludan, Ini Reaksi Indonesia

Baca juga: Meriahkan Ulang Tahun Megawati, PDI-P Karanganyar Ikut Berantas Stunting, Begini Caranya

Baca juga: Viral WNI Remas Dada Wanita Lebanon di Depan Kabah, Klarifikasi Keluarga hingga Protes KJRI

Dalam publikasi itu, pada abad 19 wilayah tersebut dipenuhi kapal-kapal tongkang pengangkut barang dagangan dari pedalaman, untuk diangkut ke kapal-kapal besar di lepas pantai. 

Bahkan terdapat pula jembatan gantung yang dapat diangkat, bila perahu besar akan melintasi.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved