Berita Kudus
Melintasi Jembatan Apung di Setrokalangan Kudus: Warga Dipungut Rp2.000, Pelajar Gratis Melintas
Warga Setrokalangan, Kudus dan warga Kedungwaru, Demak, bisa melintasi jembatan apung di Sungai Wulan dengan tarif Rp2.000. Untuk pelajar gratis.
Penulis: Saiful MaSum | Editor: Yayan Isro Roziki
Namun, pihak paguyuban pengelola menyediakan perahu kecil guna memfasilitasi masyarakat pejalan kaki agar bisa menyeberangi sungai dengan aman.
"Jembatan ini sudah empat generasi, perkiraan sudah lebih dari seratus tahun."
"Kendalanya kalau musim hujan, seringnya jembatan hanyut ketika sungai banjir, jalanan juga becek karena masih dalam wujud tanah," terangnya, Senin (19/9/2022).
Penjaga lain, Suharmono (47) menjelaskan, jembatan tersebut sering kali dilalui warga Desa Kedungwaru Lor, Kedungwaru Kidul, Tugu Lor, dan Kotakan, Kecamatan Karanganyar.
Utamanya para pekerja pabrikan dengan jumlah mencapai 400-an orang.
Setiap pengendara, lanjutnya, dikenakan retribusi perawatan jembatan Rp1.000 - Rp2.000.
Khusus bagi pelajar, pihak pengelola menggratiskan tarif, sebagai bentuk upaya mendukung majunya pendidikan.
Suharmono menyatakan, pos jaga jembatan dibuka mulai pukul 06.00 - 18.00 WIB.
Selebihnya, tidak ada yang menjaga pos, praktis masyarakat yang mau melintas dibebaskan secara gratis.
"Warga ketika berangkat kerja langsungan, bayarnya ketika pulang. Mau Rp1.000 atau Rp2.000, kami terima, tidak memaksa," katanya.
Penjaga jembatan lainnya, Gotro (53) menambahkan, jembatan tersebut biasanya ramai setiap hari ketika musim kemarau.
Biasanya mulai ramai ketika jam berangkat kerja pukul 06.00 - 07.00, dan waktu pulang kerja pukul 12.00 - 13.00.
Pada waktu tersebut, katanya, pengendara sering kali beriringan ketika melintasi jembatan.
Belum lagi, mereka harus sabar mengantre dengan pengendara lainnya dari jalur yang berlawanan, agar tidak bertabrakan di atas jembatan.
Ketika jembatan hanyut, terangnya, pembangunan ulang jembatan ditanggung pihak paguyuban pengelola.
Begitu halnya ketika dilakukan perbaikan atas komponen jembatan yang rusak dan dianggap bisa membahayakan.
"Kalau pas banjir, perahu pernah tiga kali ikut hanyut, namun bisa ditemukan."
"Jembatan ini jadi alternatif untuk membantu masyarakat lebih cepat menjangkau Kabupaten Kudus."
"Kalau untuk perahu, sifatnya 24 jam non stop ketika diperlukan," ujarnya. (Sam)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/muria/foto/bank/originals/jembatan-apung-setrokalangan-kudus-1.jpg)