Berita Kudus
Melintasi Jembatan Apung di Setrokalangan Kudus: Warga Dipungut Rp2.000, Pelajar Gratis Melintas
Warga Setrokalangan, Kudus dan warga Kedungwaru, Demak, bisa melintasi jembatan apung di Sungai Wulan dengan tarif Rp2.000. Untuk pelajar gratis.
Penulis: Saiful MaSum | Editor: Yayan Isro Roziki
TRIBUNMURIA.COM, KUDUS - Warga Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus dan Desa Kedungwaru, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak bakal mempunyai jembatan baru yang melintasi Sungai Wulan awal pekan depan.
Jembatan sepanjang 70-100 meter dengan lebar 2,5 meter ditarget selesai dan bisa digunakan pada 5 Desember.
Uniknya, jembatan tersebut dibuat mengapung di atas aliran sungai, di mana badan jembatan yang terbuat dari kayu ditopang drum-drum di bawah konstruksi jembatan.
Dengan dibangunnya jembatan itu, warga tidak perlu was-was lagi jembatan hanyut ketika Sungai Wulan banjir.
Selain didesain bisa mengapung, badan jembatan juga dipasang tali pengait untuk menahan jembatan agar tidak terbawa derasnya arus sungai.
Pengelola jembatan, Suwarno (44) mengatakan, jembatan tersebut dibangun oleh investor swasta dari luar daerah.
Kata dia, jembatan mulai dibangun sekiranya dua pekan lalu, setelah jembatan aslinya (Sasak) hanyut lagi.
"Pembangunan sudah berjalan dua pekan, ditarget bisa dioperasionalkan Senin depan," terangnya, Kamis (1/12/2022).
Suwarno menyebut, tidak ada kenaikan tarif warga yang melintasi jembatan, yaitu tetap Rp2.000 pulang pergi (PP).
Meskipun konstruksi jembatan baru dengan menelan anggaran, dia memastikan, pelajar yang hendak melintasi jembatan apung gratis.
Kata Suwarno, pelayanan gratis kepada pelajar dalam rangka mendukung majunya pendidikan di Kabupaten Kudus, dan Indonesia pada umumnya.
"Biasanya yang lewat ada 2000-an orang setiap harinya. Sekarang sudah bisa simpangan, namun diperuntukkan kendaraan roda dua," ujar dia.
Jembatan sasak yang disulap menjadi jembatan apung tersebut diperuntukkan dalam rangka membantu masyarakat pinggiran di dua kabupaten, Kudus dan Demak.
Biasanya, jembatan tersebut mayoritas dimanfaatkan warga Demak yang bekerja sebagai buruh rokok di wilayah Kabupaten Kudus.
Dengan adanya jembatan itu, warga bisa memangkas jarak hingga 15 kilometer dibandingkan menempuh jalur memutar.
Sementara itu, Sekda Kudus Samani Intakoris meminta agar pengelola jembatan tidak membebani tarif operasional jembatan kepada warga.
Artinya, tidak ada upaya menaikkan tarif melintasi jembatan setelah jembatan baru dioperasionalkan.
"Khusus pelajar memang harus digratiskan," terang dia.
Samani menerangkan, langkah selanjutnya, bakal melapor ke Bupati Kudus HM Hartopo. Setelah itu, membuat usulan pembangunan jembatan gantung kepada Gubernur Jawa Tengah dan Kementerian PUPR.
"Minimal jebatan gantung, karena jarak antar tanggul lebih dari 100 meter."
"Ini menyangkut dua wilayah, antara Demak dan Kudus, harus diprioritaskan karena terkait perekonomian masyarakat juga," jelasnya.
Jembatan sasak: ramai dilintasi saat kemarau, hilang saat banjir
Sebelumnya diberitakan, Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus dihubungkan oleh jembatan sasak dengan Desa Kedungwaru Lor, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak.
Jembatan tersebut terbuat dari bambu dan kayu sepanjang 40 meter di atas Kali Wulan, hanya bisa dilalui sepeda motor dan pejalan kaki.
Meski terlihat sederhana, jembatan sasak Kali Wulan menjadi jalur alternatif yang diminati masyarakat Karanganyar Demak agar bisa sampai di Kabupaten Kudus dengan cepat.
Dengan melewati jembatan tersebut, masyarakat bisa memangkas jarak tempuh hingga 15 kilometer dibandingkan menempuh jalur memutar.
Jembatan itu kini dikelola paguyuban warga Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu dan warga Kedungwaru Lor, Kecamatan Karanganyar.
Penjaga pintu jembatan, Suwarno (44) mengatakan, jembatan sasak penghubung dua kabupaten tersebut diperkirakan sudah ada sejak ratusan tahun.
Saking sederhananya, jembatan sering hanyut ketika Kali Wulan banjir, bahkan pada Agustus kemarin tercatat empat kali hanyut hingga menghambat perjalanan masyarakat sekitar.
Suwarno menyebut, ketika jembatan hanyut, masyarakat tidak bisa menyeberangi sungai dengan mengendarai sepeda motor.
Namun, pihak paguyuban pengelola menyediakan perahu kecil guna memfasilitasi masyarakat pejalan kaki agar bisa menyeberangi sungai dengan aman.
"Jembatan ini sudah empat generasi, perkiraan sudah lebih dari seratus tahun."
"Kendalanya kalau musim hujan, seringnya jembatan hanyut ketika sungai banjir, jalanan juga becek karena masih dalam wujud tanah," terangnya, Senin (19/9/2022).
Penjaga lain, Suharmono (47) menjelaskan, jembatan tersebut sering kali dilalui warga Desa Kedungwaru Lor, Kedungwaru Kidul, Tugu Lor, dan Kotakan, Kecamatan Karanganyar.
Utamanya para pekerja pabrikan dengan jumlah mencapai 400-an orang.
Setiap pengendara, lanjutnya, dikenakan retribusi perawatan jembatan Rp1.000 - Rp2.000.
Khusus bagi pelajar, pihak pengelola menggratiskan tarif, sebagai bentuk upaya mendukung majunya pendidikan.
Suharmono menyatakan, pos jaga jembatan dibuka mulai pukul 06.00 - 18.00 WIB.
Selebihnya, tidak ada yang menjaga pos, praktis masyarakat yang mau melintas dibebaskan secara gratis.
"Warga ketika berangkat kerja langsungan, bayarnya ketika pulang. Mau Rp1.000 atau Rp2.000, kami terima, tidak memaksa," katanya.
Penjaga jembatan lainnya, Gotro (53) menambahkan, jembatan tersebut biasanya ramai setiap hari ketika musim kemarau.
Biasanya mulai ramai ketika jam berangkat kerja pukul 06.00 - 07.00, dan waktu pulang kerja pukul 12.00 - 13.00.
Pada waktu tersebut, katanya, pengendara sering kali beriringan ketika melintasi jembatan.
Belum lagi, mereka harus sabar mengantre dengan pengendara lainnya dari jalur yang berlawanan, agar tidak bertabrakan di atas jembatan.
Ketika jembatan hanyut, terangnya, pembangunan ulang jembatan ditanggung pihak paguyuban pengelola.
Begitu halnya ketika dilakukan perbaikan atas komponen jembatan yang rusak dan dianggap bisa membahayakan.
"Kalau pas banjir, perahu pernah tiga kali ikut hanyut, namun bisa ditemukan."
"Jembatan ini jadi alternatif untuk membantu masyarakat lebih cepat menjangkau Kabupaten Kudus."
"Kalau untuk perahu, sifatnya 24 jam non stop ketika diperlukan," ujarnya. (Sam)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/muria/foto/bank/originals/jembatan-apung-setrokalangan-kudus-1.jpg)