Berita Jateng
Cerita Mantan Penambang Judi Togel Semarang: Tiarap saat Musim Grebekan Polisi, lalu Bangkit Lagi
Mantan penambang judi togel mengatakan judi togel tiarap saat H-7 Ramadan, H-7 Lebaran, serta saat musim grebekan polisi. Setelah itu bangkit lagi
Penulis: Iwan Arifianto | Editor: Yayan Isro Roziki
"Ada yang sampai ratusan ribu per beli."
"Hasil penjualan diambil agen lagi saat malam hari," kata warga Semarang Barat itu.
Hampir dua tahun malang melintang jadi penjual judi togel, ia mengaku sudah kapok sebab tidak ada keuntungan yang didapat karena uang cepat habis.
Ia pun merasakan kejenuhan berada di dunia pertogelan.
"Tidak ada orang kaya dari judi kecuali mau jadi bandar, saya merasa tak nyaman di dunia itu," paparnya.
Diakuinya mendapat uang dari dunia judi gampang karena tinggal duduk tidak perlu modal.
Tidak enaknya adakalanya pembeli yang kurang ajar dan suka berutang.
"Pernah keliru penulisan tanggung jawab ganti rugi sampai Rp1 juta karena salah nulis."
"Dulu masih model SMS sudah deal beli tapi tidak tak tulis. Ternyata nomor tembus pembeli ga mau tahu jadi nganti," terangnya.
Ia menjelaskan, para pejudi togel langgannya dulu suka pasang karena kebutuhan uang.
Kedua karena hobi hingga maniak sehingga ketika gak basang (pasang) jadi bingung sendiri.
Saking maniaknya, ketika ada kecelakaan lalu lintas dicari nomor pelatnya.
Sewaktu mimpi nomor dianalisis, ada orang gila ditanya nomor togel bahkan sampai mencari ke tempat demi nomor.
"Itu hanya beberapa untuk mencari nomor jagoan biar tembus."
"Pengalaman saya ada yang tembus dari cara-cara itu."
"Biasanya malah pemain baru. Setelah itu kecanduan tapi gak tembus-tembus lagi," tuturnya. (iwn)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/muria/foto/bank/originals/Ilustrasi-judi-togel-online.jpg)