Berita Jateng

Cerita Mantan Penambang Judi Togel Semarang: Tiarap saat Musim Grebekan Polisi, lalu Bangkit Lagi

Mantan penambang judi togel mengatakan judi togel tiarap saat H-7 Ramadan, H-7 Lebaran, serta saat musim grebekan polisi. Setelah itu bangkit lagi

Penulis: Iwan Arifianto | Editor: Yayan Isro Roziki
Istimewa/google
Ilustrasi judi togel - Mantan penambang judi togel menyebut situasi 'tiarap' saat ini hanya sementara. Setelahnya, judi togel akan kembali bangkit dan marak lagi. Hanya menunggu momen. 

TRIBUNMURIA.COM, SEMARANG - Mantan pengepul atau penambang judi togel di Kota Semarang, menilai tiarapnya para bandar togel akhir-akhir ini hanya bersifat sementara.

Mereka, para bandar judi togel, akan bangkit lagi saat situasi sudah aman dan kondusif.

Menurut dia, dalam dunia judi togel, ada tiga masa libur, yakni H-7 Ramadan dan H-7 Lebaran, serta saat musim grebekan polisi.

"Ya itu biasa dalam dunia togel Semarang, kami tentu cari aman dan akan tutup kalau situasi hendak ramai razia," ujar mantan penjual judi togel yang meminta identitasnya disembunyikan kepada TribunMuria.com, Rabu (24/8/2022).

Selain dua momen tersebut, plus musim grebekan polisi, para penjual tetap buka.

"Karena saat itu banyak operasi dari polisi sekaligus menghormati Ramadan," terangnya.

Pihaknya juga akan meliburkan diri semisal ada kejadian menonjol di kepolisian sehingga ada operasi soal judi yang akan marak terjadi.

Dikatakan, musim grebekan polisi, biasanya dilakukan aparat di bulan-bulan tertentu dan menyasar pelapak yang nekat buka.

Namun, para agen biasanya akan menginformasikan ke tingkat pengepul di lapak warung supaya tutup.

Mereka juga menyuruh atribut di warung segera dicopot  hingga nanti  buka lagi sesuai instruksi agen

"Dulu misal ketangkap agen tanggung jawab. Nanti yang urus agen sama bandar, di polisi."

"Tapi dulu Kami main aman tak akan buka saat masih gencar operasi sehingga kami tak pernah ketangkap," katanya.

Ia menilai, para agen dan bandar akan tetap tutup melihat situasi seperti saat ini.

Mereka tentu akan buka lagi saat situasi kondusif.

"Ya lihat saja nanti pasti buka lagi karena pangsa pasar judi togel menggiurkan," tutur pria berusia 25 tahun itu.

Komisi Pengepul

Penjual judi togel seperti dirinya biasa disebut pengepul atau penambang.

Ia masih memiliki atasan berupa agen dan di atasnya lagi sang bandar.

Tugasnya membuka  warung atau lapak untuk melayani pembeli dari menulis nomor hingga menyetorkan uang penjualan kepada agen.

"Tapi belakangan banyak agen yang ganti penjual perempuan, itu sistemnya pakai gaji bulanan beda dengan dahulu yang dibayar harian," katanya.

Pengalamannya sebagai pengepul judi togel dilakoninya empat tahun yang lalu. 

Zaman itu kuda lari dan Hongkong menjadi jenis togel yang paling laris manis.

Tentu ada jenis lainnya seperti Singapura dan Sidney.

"Kuda lari produk lokal, tapi kayaknya sudah ga ada."

"Sidney dan HK itu luar negeri," ungkapnya.

Ia mengaku, sebagai pengepul hanya menjual kertas togel yang didroping agen saat sore hari.

Dalam hitungan jam ribuan lembar ludes dibeli penikmat togel.

Setiap hari lapaknya beromzet Rp2 juta.

Dari hasil penjualan itu, ia mendapatkan komisi sebesar 20 persen atau Rp400 ribu.

"Yang beli minimal habis Rp10 ribu per lembar."

"Ada yang sampai ratusan ribu per beli."

"Hasil penjualan diambil agen lagi saat malam hari," kata warga Semarang Barat itu.

Hampir dua tahun malang melintang jadi penjual judi togel, ia mengaku sudah kapok sebab tidak ada keuntungan yang didapat karena uang cepat habis.

Ia pun merasakan kejenuhan berada di dunia pertogelan.

"Tidak ada orang kaya dari judi kecuali mau jadi bandar, saya merasa tak nyaman di dunia itu," paparnya.

Diakuinya mendapat uang dari dunia judi gampang karena tinggal duduk tidak perlu modal.

Tidak enaknya adakalanya pembeli yang kurang ajar dan suka berutang.

"Pernah keliru penulisan tanggung jawab ganti rugi sampai Rp1 juta karena salah nulis."

"Dulu masih model SMS sudah deal beli tapi tidak tak tulis. Ternyata nomor tembus pembeli ga mau tahu jadi nganti," terangnya.

Ia menjelaskan, para pejudi togel langgannya dulu suka pasang karena kebutuhan uang.

Kedua karena hobi hingga maniak sehingga ketika gak basang (pasang) jadi bingung sendiri.

Saking maniaknya, ketika ada kecelakaan lalu lintas dicari nomor pelatnya.

Sewaktu mimpi nomor dianalisis, ada orang gila ditanya nomor togel bahkan  sampai mencari ke tempat demi nomor.

"Itu hanya beberapa untuk mencari nomor jagoan biar tembus."

"Pengalaman saya ada yang tembus dari cara-cara itu."

"Biasanya malah pemain baru. Setelah itu kecanduan tapi gak tembus-tembus lagi," tuturnya. (iwn)

Sumber: TribunMuria.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved