Berita Grobogan
Yulianto Serasa 'Terlahir Kembali' bersama Boneka Pustaka Bergerak & Rumah Baca Bintang Grobogan
Setelah 'penglihatan' yang menakjubkan, tapi sekaligus menakutkan, Yulianto serasa terlahir kembali dengan Boneka Pustaka Bergerak Rumah Baca Bintang.
Penulis: Mazka Hauzan Naufal | Editor: Yayan Isro Roziki
Rumah Baca Bintang punya ribuan koleksi buku. Selain itu juga banyak boneka serta mainan edukatif. Di sini, siapa saja boleh datang untuk membaca dan bermain secara gratis.
Tidak ada batasan usia bagi pengunjung rumah baca. Koleksi buku yang ada beragam dan meliputi berbagai kelompok usia. Namun, memang kebanyakan pengunjung yang datang ialah anak-anak di lingkungan tempat tinggal Yulianto.
Dengan perantara boneka-boneka, Yulianto kerap membacakan buku, berdongeng, dan berdiskusi dengan anak-anak yang datang ke rumah baca. Pembawaan Yulianto yang ceria dan interaktif membuat anak-anak betah belajar dan bermain di sini, bahkan juga mereka yang belum bisa membaca.
"Inka itu belum bisa membaca. Dia kalau ke sini cari buku yang bergambar. Lalu dia ngomong sendiri, bikin cerita sendiri berdasarkan gambar yang dia lihat. Saya senang karena bagaimanapun itu memunculkan ketertarikan dia terhadap buku dan melatih imajinasi," ungkap Yulianto.
Ditanya tentang trik apa yang dia gunakan sehingga anak-anak lebih memilih membaca ketimbang bermain, Yulianto mengatakan bahwa hal itu sengaja ia latih.
"Anak-anak yang datang ke sini semua sudah paham. Mereka boleh main dengan boneka atau mainan apa pun yang ada di sini, asalkan baca buku dulu. Itu sudah jadi kebiasaan di sini," terang dia.
Bagi Yulianto, antusiasme Oliv dan Inka menunjukkan bahwa permasalahan literasi di Indonesia bukanlah minat baca yang rendah seperti yang selama ini diyakini banyak orang.
Yulianto sejak lama meyakini, permasalahan utama terkait literasi ialah keterbatasan akses buku berkualitas dan minimnya pembinaan minat baca.
Berbekal keyakinan itu, sejak 2011 Yulianto mendirikan Rumah Baca Bintang dan berangsur-angsur menginisiasi terbentuknya empat simpul rumah baca lain di Grobogan.
Mulanya, dia hanya sebatas menyusun buku-buku koleksi pribadi agar bisa dibaca umum. Kondisi rumah baca belum sebagus sekarang. Saat itu bahkan Yulianto menggunakan kotak telur sebagai rak buku.
Koleksi buku perlahan-lahan dia tambah dari hasil menyisihkan gaji sebagai pustakawan di sebuah SMP swasta.
"Saya sisihkan untuk beli buku walaupun dulu gaji saya cuma Rp 300 ribu per bulan dan perlahan naik jadi Rp 1 juta per bulan," kenang dia.
Sebanyak apa pun buku, sangat disayangkan jika tidak bisa menjangkau banyak orang. Hal inilah yang kemudian memunculkan ide Yulianto untuk berkeliling membacakan buku di hadapan anak-anak.
Namun, Yulianto pada dasarnya seorang introvert dan pemalu. Dia lalu memutar otak dan terpikir untuk memanfaatkan boneka saat membacakan buku.
“Saya pikir, penggunaan boneka justru bisa mengatasi sifat pemalu saya karena anak-anak akan lebih fokus melihat boneka. Saya lalu belajar mendongeng di Sanggar Cergam Kak Kempho Semarang. Setelah itu saya berkeliling ke pelosok-pelosok Grobogan membawa buku dan boneka,” papar Yulianto.
| Sound Horeg Resahkan Warga Purwodadi saat Jelang Sahur Disita Polisi, Pemilik Diminta Lakukan Ini |
|
|---|
| Nestapa Petani Grobogan Jelang Lebaran: Sawah Jadi Padang Pasir Dampak Banjir, Rugi Miliaran Rupiah |
|
|---|
| Pilunya Nasib Tasripin Penderita Katarak di Grobogan, Tak Tahu Istrinya telah Meninggal di Rumah |
|
|---|
| Tanggul Sungai Tuntang di Grobogan Jebol: Rendam Desa hingga Jalur Rel Kereta Semarang-Semarang |
|
|---|
| BREAKING NEWS: Rel Kereta di Papanrejo Grobogan Kembali Dikepung Air, Imbas Sungai Tuntang Meluap |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/muria/foto/bank/originals/Inisiator-Rumah-Baca-Bintang-Grobogan-dan-Boneka-Pustaka-Bergerak-Yulianto-34.jpg)