Berita Jateng

Ceramah Soal Gerhana Bulan di Masjid Agung Kabupaten Tegal, Husni Mengingatkan Datangnya Kematian

Salat Gerhana Bulan (Khusuf al Qamar) kembali digelar di Masjid Agung Kabupaten Tegal, Selasa (8/11/2022) sekitar pukul 18.15.

TRIBUNMURIA/Desta Leila Kartika
Foto setelah berlangsung salat gerhana bulan yang dilaksanakan di Masjid Agung Kabupaten Tegal, Selasa (8/11/2022) malam.  

TRIBUNMURIA.COM, SLAWI - Salat Gerhana Bulan (Khusuf al Qamar) kembali digelar di Masjid Agung Kabupaten Tegal, Selasa (8/11/2022) sekitar pukul 18.15 WIB atau setelah salat Maghrib.

Jika tahun 2021 lalu pelaksanaan salat gerhana bulan masih terbatas karena kasus pandemi Covid-19 yang masih tinggi, maka tahun 2022 ini semuanya berlangsung normal tanpa adanya aturan pembatasan jemaah.

Adapun salat gerhana bulan dilakukan sebanyak dua rakaat. 

Baca juga: Ratusan Pelajar TBS Kudus Gelar Nonton Bareng Gerhana Bulan

Masing-masing rakaat dikerjakan dengan dua kali berdiri, dua kali membaca surat Alquran, dua ruku, dan dua sujud.

Pada salat gerhana kali ini, berlaku sebagai imam yaitu Ustadz H. Kastori SQ, dan yang bertugas menjadi khatib KH Husni Faqih.

Selesai melaksanakan salat, KH Husni Faqih memberikan khotbah yang pada kesempatan ini membahas mengenai fenomena Gerhana Bulan. 

Menurutnya gerhana bulan merupakan fenomena alam, semuanya sudah diatur oleh Allah SWT namun saat ini juga bisa dibuktikan dengan teknologi. 

Baca juga: BMKG Sebut Fenomena Alam Gerhana Total Tak Berdampak Cuaca Ekstrem dan Bencana Hidrometeorologi

Ia melanjutkan, Allah menciptakan bulan sebagai cahaya, matahari sebagai sumber cahaya, dan Allah menciptakan orbit atau garis edar segala benda langit untuk kehidupan manusia di bumi, dan sebagai tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berfikir.

"Matahari, bulan semuanya tunduk pada kekuasaan Allah Swt. Semua beredar sesuai poros nya masing-masing sesuai ketentuan Allah Swt. Sehingga kita semua harus senantiasa bersyukur," kata KH Husni Faqih, pada Tribunmuria.com, Selasa (8/11/2022).

Husni melanjutkan, di dalam Alquran, Allah Swt berfirman dalam surat Yasin ayat 40 yang berbunyi, "Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya (orbit)." 

Ayat ini menjelaskan, terjadinya gerhana adalah ketika matahari, bulan, dan bumi berada di satu garis lurus. 

Jika bulan menghalangi cahaya matahari ke bumi, maka itu adalah gerhana matahari. 

Baca juga: Besok, Gerhana Bulan Total Bisa Dilihat di Indonesia. Ini Mitosnya Dari Sejumlah Negara

Jika bumi menghalangi cahaya matahari sampai ke bulan maka disebut dengan gerhana bulan. Itulah fenomena alam yang kadang terjadi.

"Dengan terjadinya gerhana bulan, mengingatkan kita semua untuk selalu ingat dengan hari kematian kita, termasuk hari kiamat. Semoga kita semua mendapat ampunan dari Allah Swt dan mendapat pertolongannnya," ungkap Husni.

Mengakhiri khotbah nya, Husni menyampaikan bahwa matahari, bulan, dan alam semesta ini semuanya diatur oleh Allah Swt.

Mudah-mudahan semua ibadah, amal baik semuanya diterima oleh Allah Swt dan tetap beriman kepadanya. (dta) 

Sumber: TribunMuria.com
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved