Berita Jateng
PGOT di Jalanan Semarang Sering Dirazia, Banyak Pengemis Berkeliaran di Kawasan Permukiman
Warga Semarang resah, seminggu belakangan ini marak para pengemis dan pengamen yang beroperasi di kawasan permukiman, seiring razia penegakan Perda.
Penulis: Iwan Arifianto | Editor: Yayan Isro Roziki
TRIBUNMURIA.COM, SEMARANG - Warga Perdikan Kidul, Kota Semarang, Miran, resah setelah semingu belakangan ini banykak pengemis yang menyerbu masuk ke permukiman warga.
Tak hanya pengemis, menurut Miran, jumlah pengamen yang berseliweran di kawasan permukiman di sekitar tempatnya tinggal juga meningkat.
Ia menduga, ini karena maraknya razia Pengemis Gelandangan dan Orang Terlantar (PGOT) di jalan-jalan umum atau jalan raya di Semarang.
Baca juga: Awas! Bagi-bagi Nasi Bungkus di Jalanan Umum Kota Semarang Bisa Didenda Rp1 Juta
Maraknya razia PGOT ini seiring masifnya penegakan aturan peraturan daerah (Perda) Kota Semarang Nomor 5 tahun 2014.
Perda tersebut mengatur larangan pemberian apapun ke para pengemis maupun gelandangan di jalanan umum dan traffic light.
Aturan itu tampaknya disiasati para pengemis dengan lebih memilih ke kawasan perumahan daripada di jalanan.
Pantauan TribunMuria.com di lapangan, kondisi sejumlah jalan protokol di kota Lunpia juga sepi dari pengemis, Kamis (6/10/2022) rentang pukul 13.00-15.00 WIB.
Selebihnya saat sore hari tampak lebih sepi karena cuaca hujan deras.
"Iya saya merasakan seperti itu, seminggu terakhir pengemis, dan pengamen jadi lebih banyak," ujar warga Miran.
Menurutnya, sebelum tersiar kabar adanya penegakan Perda tersebut, di kawasan rumahnya yang berada di dekat kampus Udinus Semarang sehari hanya ada lima sampai enam pengemis maupun pengamen.
Jumlah tersebut naik tiga kali lipat selepas aturan itu ramai diperbincangkan.
"Sekarang sampai ada 10 sampai 15 pengemis dan pengamen yang meminta ke rumah saya," ungkapnya, Kamis (6/10/2022).
Kendati ramai pengemis dan pengamen,bapak tiga anak itu mengaku, tidak pernah memberikan uang.
Alasannya ketika diberi takut tuman.
"Kalau pembeli di sini silahkan, saya tidak berani melarang," ujar pria yang juga penjual ayam penyet itu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/muria/foto/bank/originals/gelandangan-pemulung-pengemis-kota-semarang.jpg)