Senin, 8 Juni 2026

Berita Semarang

Ihwal Gas Air Mata, Demonstran di Semarang Ingatkan Polisi soal Tragedi Kanjuruhan

Polisi gunakan gas air mata untuk bubarkan paksa aksi unjuk rasa #KawalPutusanMK di Semarang. Demonstran ingatkan polisi soal Tragedi Kanjuruhan.

Tayang:
Penulis: Iwan Arifianto | Editor: Yayan Isro Roziki
Istimewa
Polisi memukul mundur mahasiswa dan massa aksi menggunakan gas air mata saat membubarkan aksi demonstrasi #KawalPutusanMK dan menentang revisi UU Pilkada di Jalan Pahlawan, Kota Semarang, Kamis (22/8/2024). 

Polisi gunakan gas air mata untuk bubarkan paksa aksi unjuk rasa #KawalPutusanMK di Semarang. Demonstran ingatkan soal Tragedi Kanjuruhan yang telan ratusan korban jiwa.

TRIBUNMURIA.COM, SEMARANG - Fatah Akrom mahasiswa UIN Salatiga menjadi korban gas air mata saat polisi melakukan tindakan represif menghalau aksi massa #KawalPutusanMK dan menentang revisi UU Pilkada di Jalan Pahlawan, Kota Semarang, Kamis (23/8/2024).

Dampak dari gas air mata, Fatah mengalami sesak nafas hingga pingsan. Dia sempat dilarikan ke RS Roemani Semarang menggunakan ojek online.

Baca juga: Aksi Tolak Revisi UU Pilkada di Semarang Ricuh, 11 Orang Masuk RS, Polisi: Kami Bersyukur . . .

Baca juga: Saat Rakyat Demo Tolak Revisi UU Pilkada, PBNU Datangi Istana Bahas Konsesi Tambang dengan Jokowi

Baca juga: Aksi Demonstrasi Garuda Biru Peringatan Darurat KawalPutusanMK Menggema di Berbagai Daerah

"Saya terpapar gas air mata saat polisi melakukan tembakan pertama. Jarak (jatuhnya selongsong) dengan saya cukup dekat sekira 10 meter, habis itu saya lari tapi badan mulai lemas," katanya, Jumat (23/8/2024).

Fatah yang tak kuat berlari akhirnya terkapar di median jalan Taman Indonesia Kaya.

Ada beberapa petugas para medis yang hendak menolongnya tetapi mereka terpaksa berlari meninggalkannya karena polisi kembali menembakan gas air mata.

Kendati begitu, dia akhirnya bisa dievakuasi ke tempat aman lalu dilarikan ke rumah sakit.

"Saya selepas itu baru sadarkan diri di rumah sakit. Tak hanya saya, ternyata ada belasan mahasiswa lainnya. Ada yang sampai hidungnya dijahit karena kena selongsong gas air mata," bebernya.

Dari kejadian ini, ia membayangkan kengerian tragedi Kanjuruhan Malang yakni tragedi meninggalnya ratusan suporter bola akibat penggunaan gas air mata.

Dia merasakan dampak gas air mata ke aksi massa cukup mengerikan karena mereka akan lari kocar-kacir, berdesak-desakan, bertabrakan sampai terjatuh.

"Kami minta polisi untuk meminimalisir penggunaan gas air mata," ujarnya.

Sejurus dengan korban gas air mata, sejumlah aktivis Semarang meminta polisi untuk meniadakan penggunaan gas air mata dalam melakukan pengamanan aksi demonstrasi.

Sebab, penggunaan gas air mata sangat dirasakan oleh para aksi massa sehingga sampai menimbulkan korban.

Terbaru, ada 26 korban gas air mata dalam aksi menentang revisi UU Pilkada di Jalan Pahlawan, Kota Semarang, Kamis (22/8/2024).

Mereka sampai dilarikan ke rumah sakit sebanyak 18 orang akibat alami sesak nafas dan pingsan.

Sumber: TribunMuria.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved