Sabtu, 23 Mei 2026

Berita Jateng

Manfaatkan Limbah Kotoran Kambing, Begini Cara Mahasiswa UIN KH Abdurrahman Wahid Buat Pupuk Bokashi

Banyaknya limbah kotoran kambing di Desa Rangimulya, mendorong Mahasiswa UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan membuat pupuk organik Bokashi.

Tayang:
Dokumentasi mahasiswa KKN
Warga bersama Mahasiswa UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan yang sedang praktik membuat pupuk organik Bokashi dari bahan dasar memanfaatkan limbah kotoran kambing yang banyak ditemukan, berlokasi di Desa Rangimulya, Kecamatan Warureja, Kabupaten Tegal, Senin (31/10/2022) kemarin. 

TRIBUNMURIA.COM, SLAWI - Mendapati banyaknya limbah kotoran kambing di Desa Rangimulya, Kecamatan Warureja, Kabupaten Tegal.

Mahasiswa UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan berinisiatif memanfaatkan limbah tersebut untuk bahan dasar pembuatan pupuk organik Bokashi. 

Adapun pembuatan pupuk tersebut, dikemas melalui pelatihan pembuatan pupuk organik Bokashi yang mengusung tema 'Pengolahan limbah peternakan guna pemberdayaan kelompok tani mandiri Desa Rangimulya, Kecamatan Warureja, Kabupaten Tegal'

Baca juga: Lukisan dari Limbah Plastik karya Seniman Pati Bakal Dipamerkan di Event Road to G20 Bali

Mahasiswa UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan, Dicky Alfian, mengungkapkan kegiatan pemanfaatan limbah kotoran kambing menjadi pupuk organik berawal dari survei dan didapati banyak limbah kotoran kambing di desa tapi belum ada pengolahan atau pun pemanfaatan.

Sementara di Desa Rangimulya sendiri, terdapat area khusus kandang kambing dengan jumlah 37 kandang masih aktif dan 11 kandang kosong.

Dari jumlah 37 kandang tersebut, ada ribuan kambing ternak yang menghasilkan limbah peternakan berupa kotoran kambing.

"Dari situlah kami akhirnya memiliki ide dan berinisiatif mengadakan kegiatan pelatihan pembuatan pupuk organik dengan bahan dasar kotoran kambing," ungkap Dicky, pada Tribunmuria.com, Selasa (1/11/2022).

Adapun kegiatan pelatihan pembuatan pupuk organik berbahan dasar kotoran kambing ini, menurut Dicky berlangsung pada Senin (31/10/2022) kemarin, bertempat di Desa Rangimulya.

Baca juga: Manfaatkan Limbah Bulu Ayam, Pemuda di Tegal Olah Jadi Pakan Alternatif Ternak

Bentuk kegiatannya sendiri yaitu sosialisasi dan pelatihan pembuatan pupuk organik.

Tidak hanya melibatkan warga dan mahasiswa KKN saja, kegiatan ini juga bekerjasama dengan Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Warureja.

Kegiatan ini menyasar kelompok wanita tani (KWT) yang ada di desa setempat.

"Nantinya pupuk ini digunakan ke tanaman sebagai percobaan. Ya masih dimanfaatkan untuk warga setempat saja, nantinya jika sudah ada pengolahan dari warga maka akan diarahkan untuk bisa dipasarkan sebagai produk olahan pupuk," jelasnya.

Sementara itu, ditanyai mengenai proses pembuatan pupuk organik dari bahan kotoran kambing, Dicky memaparkan, pembuatan pupuk ini menggunakan metode Bokashi yang berasal dari Jepang. 

Untuk proses pembuatannya, bahan yang harus disiapkan adalah kotoran kambing yang sudah dijemur dua hari, arang sekam padi, bekatul, larutan EM 4, dan larutan molasses. 

Larutan molasses dan em 4 ini harus dicampur dan didiamkan selama dua hari.

Setelahnya, campurkan kotoran kambing yang sudah dijemur dengan arang sekam padi dan diaduk-aduk hingga merata.

Kemudian masukkan bekatul kedalam bahan campuran kotoran kambing dan arang sekam padi, kemudian diaduk hingga merata.

Setalah diaduk rata, kemudian disemprotkan campuran larutan EM 4 dan molasses secukupnya (sampai gempal).

Setelah gempal, pindahkan ke wadah yang rapat dan teduh.

Diamkan selama 5-8 hari agar mikroorganisme pada campuran bahan bekerja dengan baik. 

Lalukan pengecekan setiap hari sekali, dengan cara mengecek suhu pupuk, apabila panas maka dibalik-balik agar suhunya turun.

"Membahas kendala yang kami alami, lebih pada kesadaran masyarakat akan pentingnya penggunaan pupuk organik yang ramah lingkungan, dan menghindarkan dari ketergantungan pupuk kimia yang berimbas pada kualitas tanah yang menurun," ujar Dicky.

Baca juga: Pupuk Organik SMPN, Dari Limbah Jamu Mampu Tingkatkan Hasil Panen Padi

Penyuluh Pertanian Ahli Madya, dan Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Warureja, Taryono, berharap melalui kegiatan pembuatan pupuk organik ini, masyarakat bisa mencoba atau mempraktekkan sendiri untuk kebutuhan pertanian masing-masing. 

Terutama ketika pupuk langka, maka bisa menjadi solusi bagi petani di Desa Rangimulya.

Mengingat pupuk organik ini lebih ramah lingkungan terhadap tanah yang akan digunakan sebagai lahan pertanian. 

Selain itu biayanya lebih murah, karena bahan semua sudah tersedia di Desa. 

Sedangkan kekurangannya perlu waktu dan tenaga lebih untuk membuatnya.

"Ya semoga materi yang sudah diberitakan bermanfaat dan warga kedepannya bisa membuat sendiri. Karena bahan baku tersedia dan mudah ditemukan. Tapi ya memang memerlukan waktu dan tenaga yang lebih," kata Taryono.

Pada kesempatan ini, Taryono menjelaskan sedikit mengenai pupuk Bokashi yang pertama kali dipopulerkan di Jepang sebagai pupuk organik yang bisa dibuat dengan cepat dan efektif. 

Baca juga: Satu-satunya di Indonesia, Museum Kretek Diusulkan Jadi Objek Wisata Wajib Bagi Wisatawan

Pupuk Bokashi diambil dari istilah bahasa Jepang yang artinya perubahan secara bertahap. 

Namun di Indonesia Bokashi dikenal dengan istilah bahan organik kaya akan sumber hayati. 

"Jadi pupuk Bokashi asalnya dari bahasa Jepang yang artinya perubahan secara bertahap," terangnya. 

Terpisah, Ketua KWT Desa Rangimulya, Juminah, mengatakan kegiatan sosialisasi dan pelatihan pembuatan pupuk organik sangat bermanfaat karena menambah pengetahuan khususnya bagi petani.

"Kami sangat menyambut baik kegiatan sosialisasi ini. Karena sangat bermanfaat, informatif terutama bagi para petani. Pembuatan pupuk organik memanfaatkan limbah kotoran kambing semoga bisa menjadi solusi ketika pupuk langka atau harga mahal," pungkasnya. (dta) 

Sumber: TribunMuria.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved