Serba serbi Ramadan 1444 H
Masjid Al-Manshur Tertua di Wonosobo Dibangun Tahun 1847, Makam Kyai Walik Jadi Magnet Peziarah
Masjid Al-Manshur yang ada di Jalan Pangeran Diponegoro No.13 menjadi bagian saksi sejarah penyebaran agama Islam hingga berdirinya kota Wonosobo.
Penulis: Imah Masitoh | Editor: Muhammad Olies
TRIBUNMURIA.COM, WONOSOBO - Masjid Al-Manshur yang berada di Jalan Pangeran Diponegoro No.13, ditengarai merupakan masjid tertua di Kabupaten Wonosobo.
Masjid Al-Manshur juga menjadi bagian saksi sejarah penyebaran agama Islam dan bahkan juga berdirinya Kabupaten Wonosobo.
Cerita sejarah terkait masjid Al-Manshur dari mulut ke mulut sesepuh terdahulu. Masjid Al-Manshur berada di area Pondok Pesantren Al-Manshur yang juga terdapat makam Kyai Walik.
Sehingga tempat ini ramai baik para santri, maupun masyarakat yang ingin berziarah di makam Kyai Walik.
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Manshur, KH Achmad Chaedar Idris mengungkapkan, Masjid Al-Manshur juga dikenal dengan nama Masjid Besar Wonosobo.
"Lengkap dengan pesantren, Masjid Besar Wonosobo semula berada di sebelah barat alun-alun. Namun karena dianggap tidak sesuai dengan rencana tata ruang, akhirnya dipindahkan ke utara, sekitar 500 meter dari alun-alun," jelasnya.
Kiai Manshur yang merupakan seorang penghulu kabupaten pada zamannya mewakafkan tanah seluas kurang lebih 7.000 meter persegi di kampung Kauman Utara sebagai tempat baru Masjid Besar Wonosobo pada waktu itu.
Hingga akhirnya masjid mulai dibangun tahun 1847 M (1263 H) dan baru selesai sembilan tahun kemudian, yaitu tahun 1856.
Baca juga: Ramadan di Masjid Raya Sheikh Zayed Solo, Ini Rencana Kegiatan Sebulan Penuh
Baca juga: Dugderan di Kota Semarang Digelar Esok, Ini Kegiatan Ramadan Sebulan Penuh di Masjid Kauman
Untuk mempermudah pengelolaan masjid, pada tahun 1972 takmir masjid yang diketuai H Moch Sjoekoer yang juga cucu dari Kiai Manshur, membentuk Yayasan Masjid Al-Manshur.
Bersamaan ini pula nama Masjid Besar Wonosobo berganti nama menjadi masjid Al-Manshur. Nama ini digunakan sebagai bentuk dedikasinya dengan kebesaran hati mewakafkan tanah untuk pembangunan masjid.
Kiai Manshur merupakan putera dari KH Marhamah Bendosari Sapuran. Cucu dari R Soetomarto II, dan masih keturunan ke-17 dari Brawijaya V, Raja Majapahit.
Bangunan masjid Al-Manshur memiliki gaya Jawa kuno, menggunakan bahan kayu dengan tiang-tiang berornamenkan ukiran.
Tampak dari depan maupun kanan kiri di kelilingi tiang-tiang penyangga, dengan lantai berwarna kuning kecokelatan. Seperti pada masjid umumnya masjid ini dilengkapi dengan bedug, maupun mimbar di dalamnya.
Suasana tenang begitu terasa saat pertama kali menginjakan kaki di serambi masjid, hingga semakin ke dalam suasana teduh begitu menyelimuti dengan pemandangan ornamen kayu dan hembusan angin yang masuk dari jendela kayu khas Jawa.
Masjid Al-Manshur telah mengalami renovasi beberapa kali. Di tahun 1924 setelah gempa besar atap yang semula menggunakan ijuk diganti dengan genteng.
Melihat dari Dekat Masjid di Puncak Gunung Muria Saksi Sejarah Penyebaran Islam di Kabupaten Kudus |
![]() |
---|
Anak dan Remaja Lintas Desa Ramaikan Lomba Tongtek Penggugah Sahur di Masjid Ar Rahman Blora |
![]() |
---|
Ramadan, Perajin Bedug di Banyumas Kebanjiran Pesanan, Mayoritas Order dari Luar Kota |
![]() |
---|
Ribuan ASN di Kota Semarang Besok Wajib Belanja di Pasar Johar, TPP THR Sudah Cair |
![]() |
---|
Tebus Murah Cabai dan Bawang Hanya Rp 1.000 pada Bazar Ramadan di Balai Kota Semarang |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.