Kamis, 11 Juni 2026

Berita Kudus

Nadya Ngecis, Kisah Sunan Muria Bertemu Burung Kehausan

Kelas Tari Kampung Budaya Piji Wetan Kudus melakukan gelar karya. Pameran karya berjudul "Nadya Ngecis" ini berlangsung di aula Balaidesa Lau, Dawe.

Tayang:
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: Muhammad Olies
Humas UPGRIS
Pementasan lakon ‘Pohon Babi’ karya Muhajir Arrosyid yang disutradarai Sofyan Hadi di Gedung Pusat lantai 7 UPGRIS Jalan Sidodadi Timur Nomor 24 Kota Semarang. 

TRIBUNMURIA.COM, KUDUS - Kelas Tari Kampung Budaya Piji Wetan Kudus melakukan gelar karya. Pameran karya berjudul "Nadya Ngecis" ini berlangsung di aula Balaidesa Lau, Dawe, Kudus.

Para penonton dibuat kagum dengan tari garapan yang dibuat dalam kurun waktu tiga bulan terakhir, sejak Desember hingga Februari. 

Tari garapan berbasis folklor ini mengangkat tentang kisah salah satu sendang atau belik yang ada di Dukuh Piji Wetan, yakni belik ngecis.

Gelar karya yang dipentaskan Minggu malam (26/02/2023) itu berlangsung meriah.

Hujan yang mereda disambut antusias warga yang mulai memenuhi balai desa.

Pementasan ini diawali dengan screening thriler "Nadya Ngecis".

Lalu diikuti penampilan tari di atas panggung dengan durasi sekitar 7 menit.

Koordinator kelas tari, M. Ulul Azmi menggarap sendratari Nadya Ngecis ini bersama pelatih/koreografer dari Sanggar Ciptoning Asri, yakni Rindayani. 

Ulul atau yang sering disapa Citul, terinspirasi menggarap tari ini karena ingin mengenalkan kearifan lokal di Piji Wetan kepada masyarakat sekitar Muria. 

Tari nadya ngecis, menceritakan tentang kisah Sunan Muria ketika melakukan perjalanan dakwah dan menemukan seekor burung yang kehausan. 

Setelah mencari air ke rumah-rumah dan tidak menjumpainya, Sunan Muria menancapkan tongkat hingga muncul air yang sekarang disebut Nadya Ngecis.

"Gelar karya ini, adalah hasil apa yang sudah kita digeluti selama bulan, mulai dari latihan, riset, eksplorasi, hingga ujian dan pentas malam ini. Intinya saya sangat bangga terhadap pentas luar biasa malam ini," kata Ulul saat dihubungi, Senin (27/2/2023).

Baca juga: Suguhkan Cerita Mlarat", Teater Murid Berhasil Sabet Juara Umum FDP

Baca juga: Hotel Aruss Semarang Kampanyekan Earth Hour dengan Pertunjukan Teater

Baca juga: Indra Bekti Digugat Cerai Aldila Jelita, Menikah Sudah 13 Tahun dan Dikaruniai 2 Anak

Senada dengan Ulul, Koreografis Tari Ridayani alias Rini mengatakan tari nadya ngecis ini berbentuk tari garapan, sehingga para penari harus benar-benar matang dalam wiraga wirama dan wirasa. 

 

"Ini tari garapan, jadi penarinya harus pro, penari yang matang, pinter, punya daya ingat. Dan mereka bisa. Tari garapan ini paling susah menyatukan rasanya. Harus mengalahkan ego diri," ungkap Rini.

Sementara itu, Koordinator Kampung Budaya Piji Wetan, Muchammad Zaini, dalam sambutannya mengatakan gelar karya ini merupakan bagian dari program KBPW dalam pemajuan kebudayaan di Lereng Muria.

"Ini merupakan upaya kami menggeluti bidang yang menjadi keinginan kami, memajukan budaya di muria," ungkapnya.

Jessy, sapaan akrabnya mengatakan bahwa kebudayaan harus tetap hidup dan menyala di desa-desa. Dirinya berharap Kampung Budaya Piji Wetan adalah salah satu yang menyalakan lilin-lilin kebudayaan desa. 

"Seperti kata Bung Hatta, Indonesia tidak akan bercahaya karena obor besar di Jakarta, tetapi Indonesia baru akan bercahaya dengan lilin-lilin di desa," pungkasnya. (Rad) 

 

Sumber: TribunMuria.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved