Berita Kudus
Video Indahnya Guci Dari Kardus Bekas Buatan Napi Rutan Kudus
Indahnya Guci Kardus Bekas Buatan Warga Binaan Rutan Kudus, Dijual Paling Mahal Rp400 Ribu
Penulis: Rifqi Gozali | Editor: Hermawan Handaka
TRIBUNMURIA.COM, KUDUS - Berikut Video Indahnya Guci Dari Kardus Bekas Buatan Napi Rutan Kudus
Salah seroang warga binaan di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Kudus ada yang mampu membuat guci indah berbahan baku kardus bekas.
Guci buatannya dilengkapi dengan hiasan kaligrafi atau naga melingkar membuat guci menjadi semakin menawan.
Arif lelaki 31 tahun adalah warga binaan pemilik tangan dingin yang mampu memproduksi guci indah tersebut.
Kecakapannya mengubah kardus bekas menjadi guci indah nan menawan didapat saat dia mendekam di Rutan Purwodadi sebelum akhirnya dipindahkan ke Rutan Kudus.
Di sana dia belajar dengan salah seorang narapidana juga.
"Saya dekati terus itu, saya mau belajar membuat kerajinan dari kardus."
"Setelah dekat saya ambil ilmunya, saya akhirnya bisa buat sendiri," kata lelaki yang mendekam di balik jeruji besi karena kasus pencurian.
Warga binaan menyelesaikan pembuatan guci berbahan dasar kardus bekas di Rutan Kelas IIB Kudus, Jumat (15/4/2022). (TribunMuria.com/Rifqi Gozali)
Dia yang dalam beberapa bulan lagi hampir bebas, selain mengikuti segenap kegiatan Rutan, hari-harinya kini disibukkan dengan membuat guci, dengan dibantu seorang warga binaan asal Godong bernama Wahyu.
Kini sudah ada beberapa guci buatannya.
Arif tidak menarget kuantitas produksi gucinya. Semua dilakukan sesuai kerelaan hati.
Paling kalau lagi rajin-rajinnya, dalam sebulan dia bisa membuat tiga guci.
Mula-mula yang harus dia buat adalah tubuh utama guci. Kemudian dilanjut dengan detail ornamen hiasan yang melekat di muka guci.
Lantas bagaimana cara membuatnya dari kardus bekas, ternyata pertama kardus bekas direndam air. Setelahnya dihancurkan sampai lembut menyerupai bubur.
Sebelum bubur kardus disusun dalam berbagi bentuk sesuai keinginannya, terlebih dulu harus dicampur larutan tepung tapioka. Katanya agar bisa melekat erat.
"Kelemahannya ini gucinya jangan sampai kena air. Disimpan di tempat kering. Atau ditutup kaca biar aman," kata dia.
Kini hasil keterampilan Arif sudah beberapa kali laku terjual.
Barang kerajinan yang sarat akan nilai kreativitas itu paling mahal laku terjual sampai Rp400 ribu.
Baginya itu bisa menambah penghasilan untuk menutup kebutuhannya di balik jeruji besi.
"Bisa buat beli rokok, beli sabun," kata dia.
Arif dibantu oleh para pegawai Rutan. Mulai dari kebutuhan kardus bekas sampai pemasaran dia mengandalkan para pegawai.
Beberapa kali gucinya dipasarkan oleh para petugas Rutan.
"Ada yang pesan lewat Pak Eko (pegawai Rutan), terus saya buatkan," kata dia.
Keterampilan yang dia miliki akan dikembangkan setelah bebas.
Dia ingin keterampilan yang dimilikinya bisa menimbulkan kesibukan yang mampu menghindarkan perbuatan yang bisa mengantarkannya masuk lagi ke penjara.
Sebab dia sudah dua kali dipenjara. Pertama karena tawuran, kali ini kedua karena kasus pencurian.
"Sudah. Cukup. Kasihan istri dan anak di rumah. Jangan masuk lagi," kata lelaki pemilik tato di dada dan kaki.
Bermacam kegiatan yang sifatnya pembinaan kepada narapidana atau tahanan dilakukan di dalam Rutan Kelas IIB Kudus.
Hampir semua kegiatannya bersifat religi dan bersifat ekonomi.
Semua dilakukan agar para pesakitan saat kembali ke tengah-tengah masyarakat bisa kembali berbaur.
"Dia bisa bekerja lagi. Dia memiliki keterampilan yang menghasilkan," kata Kepala Rutan Kelas IIB Kudus, Suprihadi.
Di antara kegiatan berbasis ekonomi yang dilaksanakan di dalam Rutan, kata Suprihadi, yakni produksi plastik daur ulang untuk gulungan kertas.
Produk dari para warga binaan ini dikirim ke pabrik PT Pura. Selain itu ada juga kegiatan produksi kue gapit.
Kue gurih berbahan tepung ini selalu habis dipesan. Bahkan, katanya, sampai kewalahan.
"Kami juga kerja sama dengan BLK (Balai Latihan Kerja). Untuk tahun ini belum. Tahun kemarin sudah," kata dia. (*)