Berita Kudus

Harga Telur Ayam di Kudus Tembus Rp 32 Ribu

Harga telur ayam di Kabupaten Kudus tembus Rp 32 ribu per kilogram. Kenaikan harga ini terjadi secara berangsur sejak dua pekan lalu.

Penulis: Rifqi Gozali | Editor: Daniel Ari Purnomo
Rifqi Gozali
Pedagang menunggui telur dagangannya di Pasar Bitingan Kudis, Minggu (28/8/2022). 

TRIBUNMURIA.COM, KUDUS – Harga telur ayam di Kabupaten Kudus tembus Rp 32 ribu per kilogram. Kenaikan harga ini terjadi secara berangsur sejak dua pekan lalu.

Pantauan di Pasar Bitingan pada Minggu 28 Agustus 2022, harga telur saat ini merupakan tertinggi sejak dua pekan yang lalu. Kenaikan secara berangsur itu kini mencapai Rp 32 ribu per kilogram.

Kenaikan ini dikeluhkan sejumlah pedagang lantaran banyak warga yang hendak membeli telur ayam akhirnya urung.

“Banyak yang mau beli pada tidak jadi. Cuma pegang saja, tanya harga, kemudian mengeluh,” ujar salah seorang pedagang telur di Pasar Bitingan, Sofiatun (60).

Sebelum harga telur mencapai Rp 32 ribu, kata Sofiatun, harga telur sebelumnya Rp 26 ribu. Belakangan terus merangkak naik meski stok telur masih tetap ada di pasaran.

“Kalau stok memang terus ada. Tapi harganya ini melonjak tinggi,” tandas dia.

Sofiatun mengatakan, tingginya harga telur ini lantaran adanya bantuan program keluarga harapan (PKH) dari pemerintah. Satu di antara komponen dalam bantuan tersebut berupa telur.

“Masing-masing penerima PKH dapat dua kilogram telur, jadi telurnya diborong untuk PKH,” kata dia.

Kondisi tingginya harga telur diperparah dengan minimnya warga yang menggelar pesta pernikahan. Kenaikan harga telur ini tepat saat pertengahan bulan Suro dalam penanggalan Jawa. Artinya pada bulan itu minim sekali warga menggelar resepsi pernikahan atau mantu.

“Apalagi ini wong mantu tidak ada. Jadi sepi sekali,” katanya.

Sofiatun yang mulanya saat harga telur belum setinggi ini, satu peti berisi telur sebanyak 10 kilogram bisa habis terjual dalam dua hari. Tetapi saat ini satu peti dengan isi yang sama tiga hari pun tidak habis.

Tingginya harga telur ini membuat Solemu (55) mengeluh. Dia berharap agar telur kembali normal. Hal itu erat kaitannya dengan pemenuhan gizi keluarga.

“Harganya normal lagi, Rp 22 ribu per kilogram. Jadi warga tidak nggembor,” kata dia.

Menanggapi hal tersebut Kepala Bidang Fasilitasi Perdagangan, Promosi, dan Perlindungan Konsumen pada Dinas Pedagangan Kudus, Imam Prayitno, mengatakan kondisi kenaikan harga telur ini karena supply dan demand pincang. Tingginya permintaan tidak seimbang dengan stok dari peternak. Akhirnya yang terjadi harga melonjak.

Dia juga tidak mengelak ketika dihadapkan dengan kenyataan adanya bantuan PKH mengakibatkan harga telur naik. Baginya itu sah-sah saja. Yang pasti, baginya, stok telur di pasaran masih tersedia itu sudah cukup melegakan.

“Nanti kalau PKH sudah selesai, otomatis akan turun dengan sendirinya. Kalau PKH turun, akan naik lagi. Itu sudah biasa,” kata dia.

 

Sumber: TribunMuria.com
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved