Berita Jateng
Kisah Marta Bekes, Bule Hungaria Jualan Roti Kentang di Pasar Purwokerto: 2 Tahun Dagang Keliling
Marta Bekes, bule Hungaria jualan roti kentang di Pasar Pereng Purwokerto. Sebelumnya, ia sempat dagang keliling pakai sepeda selama dua tahun
Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: Yayan Isro Roziki
- Marta Bekes, wanita keturunan Hungaria, jualan roti kentang di sebuah kios Pasar Pereng Purwokerto.
- Sebelum berjualan menetap di kios Pasar Pereng, Marta Bekes sempat jualan roti keliling kampung naik sepeda onthel.
TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Wanita dengan mata semu kehijauan dengan rambut pirang emas kecoklatan itu menyita perhatian.
Sambil berjualan roti kentang di sudut Pasar Pereng Pratistha Harsa Purwokerto, wanita itu membuat banyak pengunjung penasaran.
Ada bule jualan roti, menjadi kesan pertama yang ditangkap.
Dialah Marta Bekes (56) seorang wanita keturunan Hungaria yang saat ini sudah berkebangsaan Indonesia.
Bule Hungaria ini telah menetap lama di Indonesia sejak berumur 8 tahun atau sejak tahun 1975.
Ibunya adalah orang asli Hungaria sementara ayahnya merupakan pengacara asal Indonesia.
Marta sendiri sejak kecil hidup di Indonesia sehingga bahasa Indonesianya sangat lancar.
Setelah menikah pada tahun 1987 iapun harus ikut suaminya dan berpindah-pindah kota.
Dia sempat tinggal di Jakarta, Cilacap, Makassar, dan terakhir di Purwokerto.
Marta mulai menetap di ke Purwokerto sejak 2006.
Untuk membantu perekonomian keluarga, ia membuat usaha roti kentang yang dimulainya sejak 2008.
Awal ide membuat usaha roti kentang dilatarbelakangi saat anaknya dulu sering sakit magh.
Hingga akhirnya ia belajar buat roti sendiri.
Ia kemudian kursus dan belajar membuat roti kentang dengan resep dasar saja.
Ungkap perbedaan kebiasaan orang Hungaria dan Indonesia
Menurutnya ada beberapa hal yang dia cermati perbedaan antara di Indonesia dan Hungaria.
Kebiasaan yang membedakan antara orang Indonesia dan Hungaria.
"Disini pasti jam karet. Di Hungaria mereka on time semua," katanya kepada TribunMuria.com, Rabu (14/9/2022).
Ia mengaku masih ada keluarga di Hungaria dan terakhir pulang kampung saat masih SMA.
Ada cerita lucu bahwa dengan fisiknya yang beda Marta ternyata sering dimintai foto oleh pembeli.
Ia mengatakan memang ada perbedaan kebiasaan menyantap roti di Indonesia dan Hungaria.
Kalau di Indonesia cenderung lebih suka roti yang empuk dan manis.
Sementara di Hungaria justru menjadi sajian utama pelengkap sup.
Marta paling suka makanan Indonesia yaitu rendang dan nasi goreng.
Bahkan dia juga pandai memasak sendiri di rumah.
Sebagai pengusaha dia juga terkena dampak pandemi.
Ia mengatakan sebelum pandemi produksinya bisa tiga adonan atau 40 bungkus.
Harga roti tawarnya kisaran Rp18 ribu - Rp25 ribu.
Dia jual roti tawar yang polos, tawar cokelat, kismis, sobek, dan roti sisir jadul.
Saat ini ia sedang mencoba bangkit lagi memulai usaha roti kentang.
Ternyata ada sebuah perjuangan yang cukup pajang yang pernah dilewati.
Dulu jualan keliling naik sepeda angin
Sebelum punya lapak dagangan di Pasar Pereng, Marta harus berjualan secara keliling dari perumahan ke perumahan di Purwokerto menggunakan sepeda.
"Dulu ditawari orangnya pada nolak. Dua tahun pakai sepeda."
"Dua tahun berjualan dengan cara berkeliling dengan sepeda lalu dapat kios sampai sekarang," katanya.
Ibu dari tiga orang anak ini menceritakan resep utama roti tawarnya yaitu tanpa telur dan tanpa susu.
Sehingga saat kenaikan harga telur tidak terdampak padanya.
"Terigu saya terpengaruh. Terigu kemarin sempat naik tinggi."
"Rp260 ribu per karung, padahal tahun lalu Rp159 ribu," katanya.
Marta mengatakan resep utamanya adalah menjaga kualitas.
Kemudian menjaga komunikasi dengan pelanggan.
"Bisa terima pesanan, ke depan ingin mengembangkan usaha roti bakar dan saat ini sedang urus sertifikat halal," terangnya. (jti)