Jumat, 17 April 2026

Berita Jateng

Ciptakan Tujuh Varian Teh, Ratih Ingin Teh Lokal Batang Naik Kelas  

Ratih Anggun Perdhani, peracik teh yang berasal dari Kabupaten Batang telah berhasil menciptakan tujuh varian teh.

Penulis: Dina Indriani | Editor: Moch Anhar
TRIBUNMURIA.COM/DINA INDRIANI
Ratih Anggun Perdhani saat menunjukkan produk racikan teh buatannya. 

TRIBUNMURIA.COM, BATANG - Ratih Anggun Perdhani, peracik teh yang berasal dari Kabupaten Batang telah berhasil menciptakan tujuh varian teh.

Tujuh varian teh itu yaitu Swaran Blue, Santika, Dahayu, Nalawatea, Ramu Cotecaberry, Manala Chai, dan Darana Cocopandan.

Dikatakan wanita yang akrab disapa Ratih itu, setiap racikannya dinamai dengan kata yang berasal dari bahasa Sansekerta sehingga memunculkan kesan lokalnya. 

Dari tangan Ratih, racikan teh lokal Batang yang dipadukan dengan berbagai rempah itu sudah melalang buana ke berbagai negara, mulai dari Italia, Inggris, Swis, Australia, dan Norwegia.

Baca juga: Hari Ketiga Operasi Patuh Candi 2022, Polisi Blora Bagikan Paket Jajan kepada Anak Pemakai Helm

Baca juga: Penjualan Daging Sapi di Pasar Kliwon Temanggung Turun hingga 50 Persen, Pedagang: Dampak PMK

Baca juga: Update Reshuffle Kabinet: Selain Dua Menteri, Jokowi Juga Lantik Tiga Wakil Menteri, Siapa Saja?

Ketertarikan wanita berusia 34 tahun itu bermula saat ia yang sebelumnya pecinta kopi jatuh sakit dan tidak boleh lagi mengkonsumsi kopi.

Sejak itu orang tuanya mulai mengenalkan produk teh-teh lokal dari Kabupaten Batang.

Ia pun mulai tertarik dengan teh-teh dari daerah Pagilaran. 

"Tahun 2017 teh lokal Batang dari Pagilaran saya bawa ke Kota Semarang untuk dikenakan dalam acara Car Free Day, dari situ mulai serius menggarap bisnis tersebut," tutur Ratih kepada Tribunjateng.com, Rabu (15/6/2022).

Berbagai perizinan pun diurus, hingga akhirnya bisa melakukan pengiriman ke Inggris sekitar bulan maret 2018.

Teh-teh yang dipasarkannya masih berupa teh original dan belum ada pencampuran.

"Setelah itu saya baru tahu kalau teh itu hampir sama dengan kopi, cara menyeduh, teste rasanya dan lain sebagainya, akhirnya cari tahu dan belajar di Indonesian Tea Institue," ungkapnya.

Selanjutnya, tahun 2020 Ratih mengikuti kompetisi artisan tea tingkat nasional.

Ia mendapatkan juara dua sebagai local brand tea category melalui racikan teh bernama Nalawatea.

Sejak itu mulai banyak pesanan untuk membuat teh racikan namun ia belum percaya diri untuk membuat racikan teh bercampur rempah.

Lambat laun ia pun semakin percaya diri menciptakan racikan-racikan teh baru.

Sumber: TribunMuria.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved