Serba serbi Ramadan 1444 H
Ramadan, Perajin Bedug di Banyumas Kebanjiran Pesanan, Mayoritas Order dari Luar Kota
Perajin bedug Taofik Amin (50) asal Desa Keniten, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas kebanjiran pesanan pada ramadan tahun ini.
Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: Muhammad Olies
Selain dipasarkan melalui online, calon pembeli biasanya mengetahui asal bedug tersebut dari stiker yang ada di bedug.
Produk bedug miliknya dibanderol dengan harga yang bervariasi.
Tergantung dari besaran bedug.
Ukuran terbesar yang sanggup dibuat, adalah diameter 150 centimeter dan panjang 2,25 meter dihargai Rp50 juta.
Sedangkan untuk standar berukuran diameter 50 centimeter dan panjang 70 centimeter dihargai Rp2,8 juta.
Ia memakai bahan dari kayu trembesi. Sedangkan kulitnya, dari kulit sapi dan kambing.
Ia memilih kayu trembesi, karena dari pengalamannya kayu tersebut yang memiliki kualitas teruji, cocok, dan ketahanannya lumayan lama.
"Baik kayu maupun kulit, semua masih dari lokal," ungkapnya.
Ciri khas bedug dari produksinya, adalah dari warna, yaitu berwarna coklat.
Kecuali ada permintaan warna hitam, baru akan diganti jadi hitam.
Ia mengakui memang tidak banyak produsen bedug.
Sepengetahuannya, ada produsen bedug lainnya di Cirebon dan Tegal.
"Kalau dari produksi bedug Cirebon dan Tegal, secara kualitas kayu berani bersainglah. Tapi kalau ukir kami mungkin sedikit kalah," imbuhnya. (jti)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/muria/foto/bank/originals/tyyasdsmadsad.jpg)