Minggu, 24 Mei 2026

Berita Jateng

Minat Baca Buku Terus Menurun, Pemilik Toko Buku Samudera: Sejak Ada Internet

Minat membaca buku itu terus menurun seiring perkembangan zaman, dengan lahirnya media digital. 

Tayang:
Penulis: Khoirul Muzaki | Editor: Raka F Pujangga
TRIBUNMURIA/Khoirul Muzakki
Suasana pameran buku di Gelar Buku dan Budaya Rakyat Sukoharjo di alun alun Satya Negara, Jumat (4/11/2022)    

TRIBUNMURIA.COM, SUKOHARJO - Budaya literasi masyarakat Indonesia masih rendah.

Ini terlihat dari minimnya masyarakat yang berminat membaca buku.

Bahkan minat membaca buku itu terus menurun seiring perkembangan zaman. 

Lahirnya media digital mengubah perilaku masyarakat dalam mengonsumsi informasi maupun pengetahuan. 

Jika dulu untuk mendapatkan pengetahuan, masyarakat, termasuk siswa harus pergi ke perpustakaan atau membeli buku sesuai kebutuhan. 

Baca juga: Brigjen Pol Mardiyono Kenang Masa Kecil di SDN Kauman Blora: Kutu Buku, Suka Baca di Atas Pohon

Namun kini mereka bisa dengan mudah mendapatkannya melalui ponsel di genggaman. Praktis dan efisien. 

Meski banyak informasi atau pengetahuan yang terpampang di media internet belum tentu berasal dari sumber terpercaya, seperti buku. 

Toko-toko buku yang dulu selalu diserbu orang haus pengetahuan, kini sepi.

Namun kondisi itu tak membuat Surip, Pemilik Toko Buku Samudera di Semarang menutup usahanya. 

Ia memutuskan tetap bertahan karena itu lah yang menjadi gantungan matapencaharian. 

"Menurun sejak ada internet, " katanya, Jumat (4/11/2022) 

Tetapi ia harus putar otak agar usahanya tetap berjalan. Tidak mungkin ia hanya mengandalkan penjualan di toko yang jelas sudah sepi pelanggan. 

Surip akhirnya memutuskan mengikuti pameran-pameran buku yang diselenggarakan Event Organizer (EO). Saat ada pagelaran pameran buku di berbagai daerah, ia ikut serta membuka stan. 

Baca juga: Diskominfo Kendal Siapkan Anggaran Rp3,7 M untuk Peningkatan Jaringan Internet di Pedesaan

Bukan hanya dia, banyak pengusaha toko buku lain yang juga mengandalkan pemasukannya dari mengikuti pameran. 

"Untuk buka stan kita sewa ke EO, " katanya

Ia bersyukur, dari pameran-pameran yang dia ikuti, ada tambahan pemasukan.

Meski tak semua pameran yang dia ikuti membawa keuntungan.  Ia tetap bergantung pada beruntungan. 

Seperti pada pameran buku di Batang beberapa waktu lalu, Surip mengaku bisa meraup keuntungan karena even itu ramai pengunjung. 

Di pameran buku pada acara bertajuk Gelar Buku dan Budaya Rakyat Sukoharjo di alun-alun Satya Negara saat ini, ia pun berharap ramai pembeli. 

Baca juga: Beri Pesan Literasi, Duta Baca Indonesia Bagikan Cerita di Kabupaten Blora

"Kalau di Batang kemarin ramai yang beli. Di Sukoharjo pengunjungnya juga ramai, tapi masih jarang yang mampir beli buku, " katanya

Pandemi menjadi ujian terberat bagi kelangsungan usahanya. Ini lantaran pemerintah melarang berbagai kegiatan yang mengundang kerumunan, termasuk pameran buku. 

Tak ayal, selama dua tahun pandemi, ia tak bisa mendapatkan pemasukan dari pameran. 

Padahal sebelum pandemi, ia bisa mengikuti pameran dua kali dalam sebulan.

Kini, seiring dengan kasus covid yang melandai, even pameran buku diizinkan kembali digelar. 

Ini menjadi angin segar bagi penjual buku seperti Surip untuk kembali bangkit. Meskipun, pameran buku yang digelar belum sesering dulu. 

"Pas pandemi vakum karena pameran buku dilarang, " katanya. (*)

Sumber: TribunMuria.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved