Berita Jateng

Kisah Warga Karangdowo Kendal, Banyak yang Membangun Bisnis, Kini Jadi Sentra Perdagangan

Warga Karangdowo, Kecamatan Weleri, Kabupaten Kendal dikenal kegigihannya dalam membangun bisnis perdagangan dari nol, hingga jadi sentra perdagangan.

Penulis: Saiful MaSum | Editor: Moch Anhar
TRIBUNMURIA.COM/SAIFUL MA'SUM
Pegawai mengecek stok barang di sebuah sentra perdagangan kain di Desa Karangdowo, Kecamatan Weleri, Kabupaten Kendal, Kamis (30/6/2022). 

TRIBUNMURIA.COM, KENDAL - Perjuangan tak kenal lelah pernah dijajaki warga Karangdowo, Kecamatan Weleri, Kabupaten Kendal.

Dalam beberapa puluh tahun ke belakang, perekonomian masyarakat sekitar jauh dari level menengah.

Tak banyak warga yang memiliki mata pencaharian mapan, meskipun Karangdowo terletak tak jauh dari pusat Kecamatan Weleri.

Kondisi berubah, penduduknya kini mampu menyulap perekonomian masyarakat sekitar meningkat tajam, taraf hidup masyarakat pun terus mengalami pertumbuhan.

Semua itu terjadi tidak terlepas dari kegigihan dan ketekunan warga Karangdowo dalam membangun bisnis perdagangan dari nol, hingga menjadi sentra perdagangan di Kecamatan Weleri.

Baca juga: Cerita Syekh Jangkung dan Riwayat Desa Kaliputu sebagai Sentra Produsen Jenang Terbesar di Kudus

Baca juga: Satpol PP Jateng Apresiasi Kota Semarang Tegas Lakukan Pengawasan Hewan Kurban Saat Wabah PMK

Baca juga: Ihwal Seleksi Pengganti Harry Azhar, PB PMII Ingatkan DPR RI: Setop Isi BPK dengan Mantan Politisi

Di antaranya, perdagangan kain, elektronik, kebutuhan rumah tangga, kuliner, dan aneka jenis usaha lainnya.

Pemerintah desa mencatat, 70 persen dari total penduduk 2.200-an jiwa berprofesi sebagai pelaku usaha (pedagang).

Sisanya menjadi pegawai, petani, dan beberapa jenis profesi lainnya.

Tingkat pendidikan warga juga tergolong cukup bagus, mulai dari jenjang SMA hingga sarjana.

Modal ini menjadi dasar pendukung pesatnya kemajuan perdagangan di wilayah Karangdowo.

Didukung dengan program pemerintah desa yang difokuskan pada peningkatan usaha masyarakat. Di antaranya, akses lalu lintas, pemasaran, hingga program digitalisasi yang menjangkau lapisan terjauh dari pusat pemerintahan desa.

Perjuangan warga dalam mendukung desa mandiri terjadi sejak belasan hingga puluhan tahun.

Di antaranya adalah Salafudin (50) dan Ruminah (39) yang berprofesi sebagai pedagang kain dan perlengkapan rumah tangga.

Salafudin merintis usaha kainnya sejak 1995 dengan berjualan keliling. Bermodalkan sepeda motor butut, ia harus mencari pembeli ke luar desa dengan mendatangi pasar-pasar kecil hingga pengajian.

Semua itu dilakukan berlangsung selama lima tahun agar roda dagangnnya bisa berputar.

"Setelah menjadi pedagang keliling, saya menjajaki sebagai pedagang kaki lima, dagangannya sama yaitu kain. Jadi PKL ini mangkal di pasar-pasar dan pusat keramaian sampai 2016," terangnya kepada TribunMuria.com, Kamis (30/6/2022).

Perjuangan Salafudin terus berlanjut dengan modal ketekunan dan kesabaran.

Pendapatannya pun mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Hingga akhirnya, Salafudin memberanikan diri membuka toko kain di wilayah tempat tinggalnya.

Toko itu dibangun di pertigaan depan Balai Desa Karangdowo dengan menyediakan aneka jenis kain.

Mulai dari kain batik, kain polos, motif, dan beberapa jenis lainnya.

Kini pendapatan kotor Salafudin dari berdagang kain mencapai Rp 1,5 - 5 juta per hari.

Dia juga sudah mempunyai dua karyawan yang membantu usahanya dari warga sekitar.

Harga jual yang dipatok pun dibuat seminimal mungkin agar bisa terjangkau semua kalangan masyarakat.

Toko kain milik Salafudin menjadi salah satu jujukan para pemburu kain di wilayah Kabupaten Kendal.

"Kalau harga kain rentang Rp 20.000 - 50.000 per meter, tergantung jenisnya. Alhamdulillah usaha saya mulai menanjak dalam dua tahun terakhir," ujarnya. 

Hal senada juga dialami Ruminah, pedagang aneka jenis kebutuhan rumah tangga.

Dia bersama suami mampu membangun toko cukup besar di dekat kantor balaidesa. 

Konsumennya pun datang dari berbagai wilayah, seperti Temanggung, Purworejo, Wonosobo, Batang, Demak, dan beberapa kabupaten/kota lainnya.

Omzet bersih usahanya kini mencapai puluhan juta per pekan.

Di balik kesuksesannya, tersimpan perjuangan luar biasa yang dijalani Ruminah dan suaminya.

Keduanya merupakan warga pendatang yang berdomisili dan menetap di Desa Karangdowo.

Perempuan 39 tahun itu membutuhkan waktu 10 tahun untuk membangun usaha bersama suami tercinta.

Semua dijalani berdua, mulai dari kulakan barang, mengemas barang, hingga mengantarkannya ke tenpat konsumen.

"Kadang saya sampai rindu masa-masa itu. Benar-benar perjuangan kalau diingat. Sering kami kehujanan di jalan, sampai larut malam belum pulang. Karena memang kami belum punya karyawan, semua harus dijalani sendiri," tuturnya.

Ruminah mengatakan, suatu keberkahan kini usahanya bisa berdiri tegak.

Dari yang semula satu ruko, sudah berkembang menjadi tiga ruko berlantai dua.

Ruminah dan suaminya berhasil menyulap pundi-pundi ratusan ribu menjadi puluhan juta.

Dia juga bisa merekrut lima tenaga kerja yang diambil dari warga sekitar untuk membantu usahanya. 

"Bersyukur ya bisa berdiri sendiri menopang kebutuhan ekonomi keluarga. Kadang saya sampai bilang ke suami, ayo kita nganter barang lagi mengenang masa-masa itu. Karena memang gak bisa diungkapkan dengan kata-kata," ucapnya. 


Program Pengembangan Usaha

Pemerintah Karangdowo, Kecamatan Weleri tak tinggal diam melihat perjuangan gigih warganya dalam membangun ekonomi desa.

Sejumlah program disiapkan, mulai dari program pembangunan yang bersifat fisik maupun non fisik hingga 2026 mendatang.

Utamanya dalam meningkatkan potensi lokal yang ada. 

Sekretaris Desa Karangdowo, Hanif Darus Salam mengatakan, pada 2022 ini pemerintah desa menargetkan pendapatan hingga Rp 1,8 miliar.

Bersumber dari Dana Desa (DD) Rp 1,097 miliar pendapatan asli desa (PAD) Rp 310 juta, bagi hasil pajak dan retribusi daerah Rp 144 juta, alokasi dana desa Rp 328 juta, dan bantuan keuangan provinsi Rp 5 juta. 

Hanif mengatakan, dana yang ada bakal dimanfaatkan untuk bidang penyelenggaraan pemerintah desa Rp 689 juta, pelaksanaan pembangunan desa Rp 604 juta, pemberdayaan masyarakat Rp 81,9 juta, pembinaan masyarakat Rp 42,9 juta dan sejumlah anggaran di bidang kebencanaan.

"Kami sudah menjalankan dan menyiapkan program kerja yang berfokus untuk mendukung ekonomi masyarakat. Baik di bidang perdagangan, hingga pertanian," kata dia.

Lebih lanjut, tiga sektor bidang ekonomi, pendidikan dan kesehatan bakal digarap serius pemdes hingga empat tahun ke depan.

Berbagai inovasi program pun diluncurkan, mulai dari digitalisasi desa dengan pemasangan 110 titik jaringan internet, pemasangan 30-50 kamera pengawas untuk mewujudkan desa aman, pengembangan usaha kafe, hingga program bedah rumah yang menyasar 82 unit rumah tidak layak huni hingga 2023.

Program bedah rumah dianggarkan Rp 10 juta per unit dalam bentuk material bangunan untuk mendukung program pengentasan RTLH oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. 

Selain itu, pemdes menargetkan pendapatan asli daerah meningkat hingga Rp 1 miliar melalui program-program kerja Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Di antaranya, pengelolaan air bersih, kendaraan angkut sampah, usaha air kesehatan, dan pengadaan armada bus untuk wisata.


"Dulunya kami ingin menggarap sektor wisatanya, namun kami berpikir lebih baik menggarap sektor potensi lokalnya saja. Program dari kepala desa konsern untuk pengembangan usaha masyarakat. Jaringan internet untuk penunjang jualan online agar lebih luas, CCTV untuk menciptakan desa aman dan terawasi. Selain itu akan kami onlinekan agar bisa dikases warga Karangdowo yang bekerja di luar negeri, barangkali kangen dengan kampungnya," jelasnya.

Selain itu, pihaknya bakal fokus menggarap pemenuhan kebutuhan masyarakat di sektor pendidikan dan kesehatan.

Sebagian anggaran Rp 20-40 juta per tahun digunakan untuk program bantuan anak-anak berprestasi dan kurang mampu.

Dengan cita-cita bisa memberikan bantuan beasiswa sampai ke tingkat sarjana. 

Selain itu, pemerintah desa juga mengalokasikan anggaran Rp 80 juta per tahun untuk menunjang pelayanan kesehatan di Polindes.

Beberapa program yang sudah berjalan adalah posyandu balita, lansia, dan ibu hamil yang dikawal bidan desa dan kader PKK.

Kesejahteraan guru agama di desa sekitar juga terus diperhatikan sebagai pencetak SDM yang unggul di bidang keagamaan.

Baca juga: Jalingkut Kudus Picu Kenaikan Harga Tanah Secara Signifikan, Hartopo: Dulu Rp50.000, Kini Rp2 Juta

Baca juga: PSIS Siap Tampil Full Team Hadapi Bhayangkara FC, Ini Prediksi Starting Line Up Kedua Tim

Baca juga: Putri Terluka Seusai Dikeroyok Dua Wanita Sesama Pemandu Karaoke di Bandungan Kab Semarang

Pemerintah desa juga berhasil membangun kafe dengan memanfaatkan lahan tidak produktif. Pengelolaannya dikolaborasikan dengan warga agar bisa memberdayakan masyarakat lokal. 

"Kami juga buka layanan aduan bagi masyarakat melalui sosial media Facebook. Alhamdulillah, Karangdowo berhasil masuk 100 desa terbaik urutan 62 tingkat nasional pada 2018 lalu. Kami juga pernah menjadi desa terbaik bidang administrasi kearsipan se-Kabupaten Kendal. Mudah-mudahan program pemerintah desa bisa terus meningkatkan taraf ekonomi masyarakat," harapnya. (*)

Sumber: TribunMuria.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved