Rabu, 22 April 2026

Pilpres 2024

Ihwal Debat Capres-Cawapres, Pakar Hukum UMK: yang Ditunggu Gibran Hadapi Prof Mahfud & Muhaimin

Pakar hukum UMK Hidayatullah nilai debat capres perdana masih normatif. Menurutnya, yang ditungu-tunggu adalah Gibran hadapi Prof Mahfu & Muhaimin.

Penulis: Rifqi Gozali | Editor: Yayan Isro Roziki
Dok UMK
Pakar hukum Universitas Muria Kudus (UMK), Hidayatullah. 

TRIBUNMURIA.COM, KUDUS – Pakar hukum Universitas Muria Kudus (UMK) Hidayatullah menilai debat perdana calon presiden (capres) yang berlangsung pada 12 Desember 2023 malam masih terbilang normatif.

Pasalnya belum ada pembahasan yang mendasar dan masih membahas problem permukaan.

“Misalnya persoalan penegakan hukum, pemberantasan korupsi hingga perlindungan terhadap kelompok marjinal, masih belum dibahas terlalu mendalam dalam debat yang tersaji,” kata Hidayatullah, Kamis (14/12/2023).

Hidayatullah menilai, belum ada capres yang membahas lebih mendalam bagaimana konsep dan strategi penegakan hukum.

Misalnya belum ada tawaran dari masing-masing capres terkait konsep detail dan strategi pemberantasan korupsi.

Sampai perlindungan terhadap kelompok marjinal atau terpinggirkan seperti kaum disabilitas, perempuan, dan anak.

Namun dia berharap para capres maupun cawapres bisa lebih detail dan mendalam dalam menawarkan program dan strategi yang akan dilaksanakan dalam memimpin Indonesia ke depan.

Dan yang cukup ditunggu yaitu debat calon wakil presiden (Cawapres), bagaimana Gibran Rakabuming Raka harus menghadapi dua cawapres lain yaitu Prof Mahfud MD yang dikenal sebagai guru besar dan Muhaimin Iskandar yang notabene sebagai politisi kawakan.

Diketahui debat cawapres akan berlangsung pada 22 Desember 2023.

Meski demikian, dalam debat cawapres nanti akan tetap didampingi oleh capres.

“Yang cukup ditunggu tentunya adalah debat cawapres yang tentunya masyarakat akan menunggu bagaimana Cawapres Gibran Rakabuming Raka harus menghadapi dua Cawapres lain yakni Prof Mahfud MD dan Muhaimin Iskandar,” kata dia.

Sementara Rektor UMK Darsono mengatakan, yang disampaikan ketiga capres dalam debat perdana tersebut akan memberi pengaruh bagi pilihan masyarakat.

Terutama pemilih pemula yang menggunakan rasionalitas dan lebih bernalar.

“Ini (hasil debat perdana Capres) akan menjadi sesuatu yang menarik bagi pemilih pemula yang meliputi lebih dari separuh calon pemilih untuk menjadi ukuran dalam menimbang baiknya masa depan mereka,” kata Darsono.

Terkait materi debat yang tersaji, kata Darsono, menunjukkan bahwa ketiga capres memiliki pemahaman atas masalah dasar negeri ini, kendati disampaikan dalam narasi yang bervariasi.

“Dalam sesi pertanyaan dan debat, para capres kadangkala saling legowo dan saling melengkapi jawaban dari pertanyaan yang ada."

"Saya melihat ini adalah hal yang cukup unik karena kesantunan dan kedewasaan masih muncul dalam perbedaan,” katanya.

Akademisi UGM: anomali Gibran

Terpisah, dilansir Kompas.com, Pakar Politik dari UGM Arya Budi menyebut cawapres Gibran Rakabuming Raka menampilkan anomali saat mendampingi Prabowo Subianto, dalam debat perdana tersebut.

Kata dia, Gibran selama ini dikenal sebagai sosok yang tidak ekspresif.

Namun hal berbeda dia tunjukkan saat mendampingi Prabowo Subianto dalam debat perdana.

Gibran justru menjadi pemandu sorak para pendukungnya bersama Prabowo Subianto.

"Sebenarnya agak anomali untuk Gibran yang cenderung tidak terlalu ekspresif sementara di debat dia cenderung ekspresif," ujarnya, saat dihubungi wartawan, Rabu (13/12/2023).

Arya menambahkan, dengan sikap yang ditunjukkan Gibran saat debat capres, dia menduga selama ini Gibran menahan ekspresi-ekspresinya saat berkomunikasi verbal, atau saat berkomunikasi dengan publik.

"Sebenarnya agak anomali jangan-jangan selama ini memang dia berusaha menahan banyak hal terutama ekspresi-ekspresi dia dalam komunikasi verbal, dalam komunikasi publik, dan seterusnya," ucap Arya yang juga dosen Fisipol di UGM ini.

Gibran tak yakin dengan diri sendiri

Menurutnya, ada dua hal yang menyebabkan Gibran terlihat ekspresif saat mendampingi Prabowo Subianto, pertama adalah kondisi tidak cukup yakin dengan diri sendiri atau hanya terbawa atmosfer debat.

"Saya enggak tahu latar belakangnya tetapi hanya bisa mengatakan cukup anomali jika Gibran segitu ekspresifnya dalam komunikasi publik dia irit bicara kemudian juga tidak terlalu ekspresif," ujarnya.

Menurut Arya, Gibran belum memiliki pengalaman seperti calon-calon lainnya mengingat Gibrann baru menjabat sebagai Wali Kota Solo dua tahun lalu langsung terjun pada panggung debat nasiona yang ditonton oleh jutaan orang, hal ini bisa menjadi tekanan sendiri bagi Gibran.

"Bisa jadi memang ini menjadi test case dia karena dia wali kota baru dua tahun."

"Kemudian langsung masuk ke kontestasi nasional, dan sebagai Wapres dan masuk dalam panggung debat ditonton oleh jutaan orang tentu itu menjadi pressure yang tidak mudah bagi Gibran walaupun dia anak presiden dia bagaimanapun juga manusia," katanya.

Sebelumnya, Komandan Tim Fanta (Pemilih Muda) Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, Arief Rosyid mengatakan cawapres nomor urut 2 Gibran bukan terpancing emosi saat membangkitkan semangat pendukung ketika capresnya, Prabowo menjawab soal putusan Mahkamah Konstitusi (MK). 

Adapun putusan MK yang dimaksud memuluskan langkah Gibran untuk maju ke Pilpres 2024. 

Putusan MK ini dipertanyakan Anies Baswedan kepada Prabowo dalam acara debat Selasa malam. 

“Kalau kepancing emosi sih enggak ya. Justru itu antusiasme dan apresiasi setelah mendengar jawaban Pak Prabowo yang santai tapi on point, seperti itu," ujar Arief saat dimintai konfirmasi, Rabu (13/12/2023).

Arief menjelaskan, Gibran yang sampai berdiri dan membangkitkan semangat pendukung hanya bentuk ekspresi.

Dia menyebut Gibran ingin mengajak penonton tepuk tangan dan mendukung Prabowo yang sedang berdebat dengan capres lain. (*)

Sumber: TribunMuria.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved