Bisnis dan Keuangan

Transaksi QRIS Pakai Aplikasi BRImo di Jawa Tengah Tembus Rp55 Miliar

Transaksi menggunakan uang elektronik melalui QRIS aplikasi BRImo di Jateng capai Rp55 miliar melalui 421 cabang BRI di Jateng

Penulis: Faisal Affan | Editor: Yayan Isro Roziki
TribunMuria.com/Dina Indriani
Pj Bupati Batang Lani Dwi Rejeki, mencoba pembayaran non-tunai menggunakan QRIS, saat meluncurkan Pasar Siap QRIS di Pasar Subah, Rabu (20/7/2022). 

TRIBUNMURIA.COM, SEMARANG - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mencatatkan transaksi dengan menggunakan QRIS melalui Aplikasi BRImo di Jawa Tengah tembus Rp55 miliar.

Regional CEO BRI Kanwil Semarang Handaru Sakti menjelaskan, BRI berusaha mengakuisisi 421 pasar dari 1.552 pasar yang ada di Jateng.

"Kami punya 421 unit BRI di wilayah Jateng. Sistem transaksi di pasar berusaha kami edukasi dengan QRIS."

"Hingga kini terdapat sekitar 130.000 nasabah yang memasang QRIS," kata Handaru, di sela-sela acara Pasar Rakyat Simpedes (PRS) di Stadion Diponegoro Semarang, Jumat (19/8/2022) sore.

Program pembayaran QRIS itu digalakkan Bank Indonesia yang bertujuan meningkatkan efisiensi transaksi, kecepatan, dan faktor keamanan.

Tidak akan terjadi transaksi menggunakan uang palsu maupun uang kumal karena serba digital.

"Nilai nominal pembayaran QRIS  terus berproses. Tercatat, saat ini 35-40 persen telah bertransaksi yang angkanya menembus Rp53 miliar hingga Rp55 miliar per bulan."

"Kami berharap akhir tahun ini target 100 persen tercapai," tuturnya.

Ia menambahkan, BRI terus melakukan transformasi dengan menyediakan fitur pembayaran scan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) yang lengkap baik dari sisi nasabah maupun mitra merchant.

Fitur itu hadir dalam dua cara. Pertama,  pengguna menunjukkan QRIS pada merchant dan merchant yang akan melakukan pemindaian atau biasa disebut metode Customer Presented Mode (CPM), dalam aplikasi BRImo.

Metode ini  juga didukung dengan  fitur QR Pedagang sehingga mitra merchant dapat melakukan pemindaian QRIS secara langsung tanpa perlu tambahan device.

Kemudian cara kedua dilakukan sebaliknya. Yaitu pengguna melakukan pemindaian QRIS yang ada pada merchant atau disebut metode Merchant Presented Mode (MPM).

Di sisi lain Handaru menambahkan, Pasar Rakyat Simpedes di Jateng digelar di Semarang, kemudian Pati, dan Kota Tegal.

Melalui ajang ini sekitar 200 lebih UMKM baik binaan BRI maupun binaan stakeholder lainnya berpartisipasi tanpa dipungut biaya.

"Kami ingin para pelaku UMKM kembali bangkit setelah dua tahun lebih terpuruk karena dilanda pandemi Covid-19," katanya.

Dengan mengusung tagline "Pede memimpin perubahan", melalui ajang PRS diharapkan para pelaku UMKM lebih pede untuk terus berinovasi terhadap produknya.

"Tujuan selanjutnya, kami ingin para pelaku UMKM tak hanya menguasai pasar lokal, tapi juga mampu menembus pasar nasional hingga internasional," tuturnya. (*)

 

Sumber: TribunMuria.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved