Bisnis dan Keuangan
Harga Mi Diprediksi Naik, Apmiso Jateng Minta Pemerintah Turun Tangan: Jangan Sampai Seperti Migor
Apmiso Jateng meminta pemerintah segera turun tangan mengatasi kenaikan harga mi dan bahan baku pembuatnya. Jangan sampai ada kelangkaan seperti migor
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: Yayan Isro Roziki
- Harga mi diprediksi akan naik karena terpengaruh pasokan gandum, dampak perang Rusia - Ukraina.
- Asosiasi Pedagang Mi dan Bakos (Apmiso) Jateng, khawatir nasib tepung gandum sebagai bahan baku pembuatan mi akan sulit didapat, seperti krisis minyak goreng dulu.
- Apmiso Jateng meminta pemerintah segera turun tangan, menggelar operasi pasar.
TRIBUNMURIA.COM, SEMARANG - Perang Rusia-Ukraina disebut berpengaruh terhadap pasokan gandum sebagai bahan baku pembuatan mi ke Indonesia.
Begitu disampaikan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo.
Karena itu, Syahrul Yasin Limpo mengimbau agar masyarakat berhati-hati terhadap harga mi instan yang dimungkinkan bisa naik tiga kali lipat.
Merespon hal itu, Asosiasi Pedagang Mie dan Bakso (Apmiso) Indonesia meminta agar pemerintah segera turun tangan untuk melakukan antisipasi.
Sebab, dikhawatirkan hal itu akan memicu para spekulan yang memanfaatkan celah untuk menimbun.
"Dengan adanya isu harga mi instan akan naik tersebut dikhawatirkan ada politik dagang yang mungkin tidak membuka barangnya untuk dijual, atau ditimbun dulu, sehingga menyebabkan bahan di pasar semakin kurang."
"Ini harus diawasi, ditangani, sebelum terjadi seperti minyak goreng dulu."
"Satu-satunya cara sebelum terjadi adalah pemerintah harus segera turun tangan dan lakukan operasi pasar, jangan sampai dikuasai kartel," kata Ketua Asosiasi Pedagang Mie dan Bakso (Apmiso) Jateng, Lasiman, kepada tribunmuria.com, Rabu (10/8/2022).
Lasiman lebih lanjut menyatakan, dampak dari kenaikan harga tepung terigu dan mi instan sebagai produk turunannya, sebenarnya telah dirasakan para pedagang mi dan bakso dalam beberapa waktu terakhir.
Disebutkan, anggota Apmiso Jateng sendiri mencapai 20.000 pedagang, sedangkan di seluruh Indonesia mencapai ratusan ribu.
Menurut dia, harga tepung terigu sendiri telah mengalami kenaikan hampir dua kali lipat dari harga sebelumnya.
Hal itu memberikan pengaruh bagi para pedagang mi ayam yang memanfaatkan langsung tepung terigu sebagai bahan baku pembuatan produk.
Sementara itu disebutkan, mi instan ataupun mi basah yang dijual di pasaran juga sama-sama telah mengalami kenaikan harga.
Adapun sebagian besar pedagang mie selama ini memanfaatkan mie instan yang dijual di pasaran untuk bahan baku pembuatan mulai dari produk bakmi-bakmian seperti bakmi jowo, mi tek tek, hingga mi bakso.
"Pasti merasakan dampak, karena dengan harga bahan baku yang mahal, kemudian dampak produksi, dampaknya ke konsumen juga."
"Sehingga, pedagang mie ayam dan bakso ini terdampak dua kali, yaitu dari harga daging yang tidak turun dan dampak harga mie yang semakin hari semakin naik.
Ini yang merepotkan pedagang mie dan bakso. Kalau kenaikan harga tepung terigu, paling terpengaruh pedagang mi ayam dan mi jowo karena itu memang yang dijual adalah mi-nya," tuturnya.
Di sisi itu Lasiman menambahkan, dengan adanya kenaikan harga tepung terigu dan mie instan yang terjadi saat ini para pedagang mie ayam dan bakso belum kompak menaikkan harga produk.
Dia mengatakan, siasat saat ini masih bisa dilakukan dengan cara mengurangi porsi.
"Saat ini hampir belum menaikkan harga, sebagian besar barangkali mengurangi porsi.
Caranya hanya begitu untuk mengatasi. Kalau untuk harga kan mereka jualnya berbeda-beda bergantung bentuk dan kualitas produknya," terangnya.
Adapun dia menyebutkan, apabila kenaikan harga tepung terigu maupun mi instan semakin tidak terkendali, bukan tidak mungkin bagi para pedagang mie ayam dan bakso menaikkan harga jual produk.
"Dampak ini memang hampir menyeluruh. Kemudian kalau sampai pada posisi protes, tidak perlu.
Satu-satunya cara mengantisipasi adalah menaikkan harga. Namun kenaikan harga kemungkinan tidak sampai 10 persen atau hanya 10 persen. Jadi misal yang awalnya Rp10 ribu per porsi menjadi Rp11 ribu per porsi," sebutnya.
Sementara itu Lasiman menyatakan, sekarang ini tidak ada kendala yang berarti terkait pasokan tepuk terigu ataupun mie instan.
Menurut dia, pasokan masih aman meski tak selancar dulu.
"Sekarang masih ada, toko-toko masih menyiapkan. Untuk harga sekarang mahal sih tidak apa-apa, yang dikhawatirkan kalau bahan baku tidak ada."
"Maka dari itu, pemerintah harus segera turun tangan," tukasnya. (idy)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/muria/foto/bank/originals/Ilustrasi-mi-ayam.jpg)