Kamis, 4 Juni 2026

Berita Jateng

Pengrajin Wayang Kulit di Sukoharjo Terdampak Pandemi Covid, Tak Ada Pentas Wayang, Pesanan Pun Sepi

Marwanto, pengrajin wayang kulit asal Kelurahan Sonorejo merasakan betul dampak pandemi bagi kelangsungan usahanya.

Tayang:
Penulis: Khoirul Muzaki | Editor: Moch Anhar
TRIBUNMURIA.COM/KHOIRUL MUZAKKI
Marwanto, pengrajin wayang kulit dari Kelurahan Sonorejo, Sukoharjo. 

TRIBUNMURIA.COM, SUKOHARJO - Kesenian wayang kulit adalah kebudayaan asli nusantara yang telah diakui sebagai warisan dunia

Kebudayaan yang berkembang sejak berabad-abad silam itu nyatanya masih lestari hingga sekarang. 

Pertunjukan wayang kulit masih bisa disaksikan masyarakat dalam berbagai kesempatan.

Meskipun, kesenian itu semakin jarang dipentaskan. 

Terlebih di masa pandemi Covid 19, selama sekitar dua tahun, masyarakat tak bisa menyaksikan pertunjukan wayang kulit.

Baca juga: Kebakaran Home Industry Jajanan Ringan di Singorojo Kendal, Bangunan Ludes Terbakar

Grup kesenian wayang kulit, termasuk dalang pun sepi orderan. 

Ini ternyata berimbas pada kesejahteraan pengrajin wayang kulit

Kelangsungan industri kerajinan ini sangat bergantung dari intensitas pertunjukan wayang kulit di masyarakat. 

Marwanto, pengrajin wayang kulit asal Kelurahan Sonorejo merasakan betul dampak pandemi bagi kelangsungan usahanya.

"Dua tahun ini total berhenti, " katanya, Selasa (9/8/2022) 

Padahal, sebelum pandemi, ia mengaku sampai kewalahan melayani pesanan wayang kulit dari pelanggan. 

Selama pandemi, kata dia, pemerintah melarang aktivitas yang mengundang kerumunan, termasuk pertunjukan wayang kulit. 

Karena tidak ada pertunjukan, permintaan wayang kulit, khususnya dari dalang menurun tajam. 

Terlebih pelanggannya selama ini kebanyakan dalang yang usahanya sangat tergantung dari ada tidaknya masyarakat pengundang. 

"Kalau dalang gak main, gak ada pesanan wayang, " katanya

Selain dalang, pelanggannya biasanya adalah kolektor. Tapi beda dengan dalang, kolektor biasanya membeli wayang dalam jumlah sedikit atau bijian. 

Kepentingan mereka hanya sebatas koleksi atau pajangan. Beda dengan dalang yang memang memainkan wayang untuk pementasan.  Karena sering dipakai, tak ayal dalang butuh memesan wayang baru. 

Dalang juga biasanya membeli wayang dalam jumlah banyak karena harus memiliki tokoh wayang yang lengkap. 

Di masa pandemi ini, yang memesan wayang di tempatnya lebih banyak kolektor di banding dalang. Sehingga ini memengaruhi pendapatan. 

"Kalau dulu banyak yang pesan dalang, kolektor sedikit. Sekarang hanya mengandalkan pesanan kolektor, " katanya

Ia mengatakan, dalam situasi normal, di luar  pandemi, sebetulnya permintaan wayang kulit tetap stabil.

Karena itu, ia berharap tidak ada pembatasan aktivitas kesenian masyarakat lagi yang berdampak pada matapencaharian pelaku seni dan pengrajin. 

Baca juga: Warga Boleh Ikut Jadi Peserta Upacara HUT Kemerdekaan RI di Demak, Cara Daftarnya Mudah

Ia mengatakan, biasanya pesanan wayang kulit memuncak saat musim Pileg atau Pilkada maupun musim hajatan di masyarakat. 

Biasanya para calon pemimpin atau caleg menggelar pentas wayang kulit untuk masyarakat atau pendukungnya. Pemerintah juga kerap mengundang grup wayang untuk pentas dalam even-even tertentu, misal HUT kabupaten. 

Hanya kegiatan itu ditiadakan selama pandemi Covid 19 sehingga banyak yang kehilangan mata pencaharian. 

 

Sumber: TribunMuria.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved