Kamis, 11 Juni 2026

Berita Jateng

Menilik Wisata Petik Melon di Kabupaten Kudus, Ada Varian Buah dari Jepang

Muria Farm Hidroponik yang terletak di Dusun Kauman, Desa Besito, Kecamatan Gebog, Kudus membuka wisata petik melon.

Tayang:
Penulis: Saiful MaSum | Editor: Moch Anhar
TRIBUNMURIA.COM/SAIFUL MA'SUM
Deni Saputra, pemilik Muria Farm Hidroponik menunjukkan buah melon hidroponik siap panen untuk wisata petik melon di Dusun Dusun Kauman, Desa Besito, Kecamatan Gebog, Kudus, Minggu (21/8/2022). 

TRIBUNMURIA.COM, KUDUS - Di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, ada tempat wisata baru bernama wisata petik melon.

Tempat tersebut berada di Muria Farm Hidroponik yang terletak di Dusun Kauman, Desa Besito, Kecamatan Gebog, berjarak sekitar 7 kilometer dari pusat kota Kudus.

Tempat wisata yang baru dirintis beberapa tahun ini menyuguhkan buah melon yang bisa dipetik langsung oleh pengunjung. Namun, tidak buka setiap hari atau setiap pekan, melainkan musiman ketika waktu panen tiba empat kali dalam setahun.

Pemilik usaha, Deni Saputra mengatakan, wisata petik melon ini dirintis membutuhkan waktu beberapa tahun.

Dia menjelaskan, pada 2012 lalu mulai merintis budidaya tanaman dengan cara hidroponik dan greenhouse di belakang rumah.

Baca juga: Obati Kerinduan Penggemar di Semarang, KLa Project Ajak Nostalgia Lewat Lagu Tak Bisa ke Lain Hati

Tiga tahun setelahnya, usaha tanaman Deni berkembang dan mulai merintis di lahan yang lebih luas yakni 3.500 meter persegi. 

Di atas lahan itu, Deni mulai membangun satu greenhouse seluas 1.500 meter persegi untuk budidaya sayuran selada.

"Kami mencoba menekuni yang ada sampai saat ini. Empat tahun setelahnya, saya mulai mengembangkan usaha merambah ke tanaman buah," terangnya, Minggu (21/8/2022).

Sejak 2019, Deni membangun kembali dua greenhouse, masing-masing seluas 500 meter persegi.

Dia pun memilih tanaman melon premium menjadi objek tanamnya yang terus dikembangkan hingga saat ini.

Deni menuturkan, ada empat jenis melon yang ditanam, mulai dari japannes melon, dalmation, inthanon, dan jonetsu.

Keempat macam melon tersebut, lanjutnya, merupakan melon jenis premium yang dibudidayakan dengan model tanam hidroponik.

Saat ini, Deni memiliki lima karyawan tetap yang membantunya dalam merawat 3.000 pohon melon per musim panen.

"Setelah melihat hasilnya dalam beberapa kali panen, kami kembangkan sebagai wisata petik melon. Masuknya gratis, pengunjung bisa melihat langsung melon yang masih di pohonnya, dan bisa memetik buah langsung, dibawa pulang per kilogramnya Rp 40.000," jelasnya.

Deni menyebut, satu greenhouse budidaya melon hidroponik membutuhkan modal hingga Rp 420 juta.

Pihaknya bisa memaksimalkan panen melon hingga empat kali dalam setahun.

Dengan modal dua greenhouse yang ada, Deni bisa mendapatkan hasil panen hingga 2,7 ton setiap musim panen, yaitu 75 hari setelah masa tanam. 

Setiap pohonnya, dia memaksimalkan satu buah dengan berat rata-rata 1,8 kilogram guna menyesuaikan permintaan pasar.

"Saat ini, musim panennya belum bisa ditentukan kapan waktunya karena masih terbatas greenhouse. Akan kami coba kembangka terus supaya lebih banyak," ujar dia.

Pada tahun ini, Deni mematok target bisa mengembangkan budidaya tanamannya hingga memiliki 12 greenhouse.

Dengan modal tersebut, pihaknya ingin sedikit demi sedikit memenuhi permintaan pasar.

Dia juga berharap, tanaman melonnya bisa panen setiap dua pekan untuk menjaga kontinuitas stok produk.

"Pasar melon ini sampai ke Jakarta, Surabaya, Semarang, dan beberapa kota besar. Saat ini saja, permintaan Jakarta 7 ton perpekan, kami masih kewalahan, meskipun sudah gandeng 5 mitra. Karena butuh paling tidak 36 greenhouse," jelasnya.

Baca juga: Bangkitkan Perekonomian Pasca Pandemi Covid-19, Warga Tirto Pekalongan Ramaikan Festival Budaya

Pada akhir bulan ini, Deni bakal mulai mengembangkan usahanya di atas lahan seluas satu hektare. 

Pihaknya berencana mengembangkan komoditi semangka agar lebih variatif.

Dia ingin, pengembangan wisata petik buahnya bisa lebih meriah dan berkembang dari waktu ke waktu. 

"Hidroponik ini memang kuncinya perawatan paling utama, pekerjaan mudah namun harus disiplin. Di dalam green house harus steril, nutrisi dan air tercukupi, serta harus dijaga agar terbebas dari hama. Untuk bijinya kami datangkan langsung dari Jepang, Belanda, Korea, dan butuh sinar matahari penuh dalam perawatan," tuturnya. (*)

Sumber: TribunMuria.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved