Senin, 27 April 2026

Opini

Opini Idham Cholid: Politik Daun Salam Kiai Ma'ruf

Opini Idham Cholid: Politik Daun Salam Kiai Ma'ruf Amin Kita mesti belajar banyak dari Kiai Ma'ruf Amin. ultah kiai ma'ruf amin

Dok Pribadi
Idham Cholid; kader NU, tinggal di Kalisuren, Wonosobo 

Idham Cholid | Kader NU, tinggal di Wonosobo

 

Kita mesti belajar banyak dari Kiai Ma'ruf Amin.

"Anda Ma'ruf Amin?"

"Iya betul."

"Anda akan mendapatkan amanah besar!"

Begitulah sekelumit penggalan dialog antara KH. Ma'ruf Amin dengan seseorang yang tak dikenal di makam Syekh Belabelu atau Raden Jaka Bandem, murid Syekh Maulana Maghribi, yang tak lain adalah putra Brawijaya V.

Saya mendengar cerita itu langsung dari Kiai Ma'ruf saat ndereake (membersamainya) dalam perjalanan "konsolidasi" 2008 ke Jateng dan Jatim.

Amanah besar. Apakah hal itu berkaitan dengan kepemimpinan nasional?

Tak terbayang sedikitpun. "Masa Kiai Ma'ruf mau jadi Presiden atau Wapres, dari mana berangkatnya?" Pikir saya saat itu, penuh tanda tanya.

Meski telah menjadi Anggota Wantimpres sejak 2005 (bahkan sampai 2015, dua periode masa Presiden SBY), namun siapa yang menganggapnya sebagai "faktor" politik utama?

Namun peran politiknya, haruslah diakui, memang sangat penting bagi kiprah politik NU.

Mendirikan partai bagi warga nahdliyin, yang kemudian melahirkan PKB pada 23 Juli 1998 adalah inisiatif Kiai Ma'ruf yang langsung disampaikan di hadapan Gus Dur.

Kiai Ma'ruf tak pernah patah semangat, meskipun mendirikan partai itu dianggap "melanggar" Khittah 1926.

Baginya, Khittah itu garis perjuangan yang harus menjadi pedoman, sesuai dengan aqidah, fikrah dan harakah Ahlussunnah wal-Jama'ah an-Nahdliyah.

Perjuangan NU harus dilakukan di semua lini. Tanpa kecuali di wilayah politik.

Semua politisi PKB khususnya haruslah berterimakasih kepada Kiai Ma'ruf. Sosok gigih dan pantang menyerah, "inisiator" lahirnya partai bagi warga nahdliyin.

Saya menyebutnya inisiator, karena secara formal Kiai Ma'ruf memang tidak pernah dipublish sebagai pendiri.

Dengan kegigihannya sebagai Ketua Dewan Syura pertama PKB, partai ini masuk tiga besar pada Pemilu 1999.

Meski kemudian Kiai Ma'ruf cukup hanya menjadi Ketua Komisi VI di DPRRI saat itu (1999-2004), beliau tetap ikhlas dan biasa-biasa saja.

Kiai Ma'ruf tak pernah kendor semangat, apalagi surut langkah. Kiprah perjuangannya sangat jelas, menjadi konstribusi nyata bagi kalangan santri seluruhnya.

Kini, sudah dua tahun Kiai Ma'ruf resmi menjadi Wakil Presiden. Inilah amanah besar yang sebenarnya telah lama dia dapatkan sinyalnya.

Buah keikhlasan perjuangannya. Kiai Ma'ruf memang paling berhak memperoleh itu semua.

Jika amanah besar tersebut secara politik dianggap merupakan capaian, maka soal "daun salam" akan lain ceritanya.

Tentu kita tak akan pernah lupa. "Daun salam itu dicari saat mau masak tapi ketika masakan sudah matang ia yang pertama kali akan dibuang," demikian Kiai Ma'ruf sering mengibaratkan.

Istilah daun salam memang bukan khas Kiai Ma'ruf. Istilah itu tak jarang kita dengar saat kampanye Pemilu digelar.

Tak hanya Kiai Ma'ruf. Para kiai dan muballigh NU juga sering menyampaikan.

Daun salam, kritik untuk politisi egois

Apa maksudnya? Itulah sebenarnya kritik terbuka dari kiai untuk para politisi yang selalu bertindak atas dasar dan untuk kepentingannya sendiri.

Dengan segala cara, mereka selalu pandai mengobral janji. Sedangkan para kiai hanya dimanfaatkan. Dipinggirkan dan bahkan dibuang saat sudah tak diperlukan lagi. Persis daun salam!

Begitulah para kiai menggambarkan nasib NU khususnya saat Orde Baru berkuasa.

Sering juga digambarkan sebagai "pemadam kebakaran" untuk meredam berbagai gejolak dan keributan. Tapi ketika situasi aman akan selalu dipinggirkan.

Pengalaman pahit, memang. Namun justru dari situlah karakter politiknya terbentuk matang. Kita bisa lihat, NU berikut para kiainya, politisinya, bahkan warganya, tak mudah layu.

Berbagai hambatan dan rintangan justru menjadi pupuk yang menyuburkan, menjadi bumbu yang menyedapkan.

Bahkan, tak hanya jadi bumbu penyedap. Daun salam juga mempunyai banyak khasiat. Air rebusannya saja sangat bermanfaat, bisa menjadi obat untuk berbagai macam penyakit berat.

Akhirul kalam, kita mesti belajar banyak dari Kiai Ma'ruf. Hari ini, 11 Maret, tepat 79 tahun.

Semoga tetap sehat, berkah, dan maslahat, Abah Wapres. (*)

Sumber: TribunMuria.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved